Nasihat yang Berharga untuk Kedua Mempelai

Berkata Syaikh Firkaus حقظه الله

Maka yang wajib bagi seorang suami ialah tidak mencela istrinya atas perkara-perkara yang telah lewat dan (tidak,pent) menyelidiki aib-aibnya yang telah lalu, yang apabila disebut-sebut bisa mengancam kehidupan rumah tangga

Ini dalam rangka mengamalkan firman Alloh Ta’ala ;

فإن أظعنكم فلا تبغوا عليهن سبيلا

“Apabila mereka (para istri, pent) telah taat kepada kalian (para suami, pent) maka janganlah kalian mencari-cari jalan (untuk mencari kesalahan mereka,pent)” (An-Nisa ; 34)

_____

diambil dari situs resmi milik Fadhilatusy Syaikh Firkaus

pada pembahasan

 حق تأديب الزوجة بين الإصلاح و التشقي

 

Baca Juga: Karakteristik Dari Sifat-Sifat Istri Shalihah (Bagian 1)

Bagaikan Anjing yang Memperebutkan Bangkai

Al-Hafizh Ibnu Asakir rahihamullaahu meriwayatkan dalam Taariikh-nya bahwasanya Ahmad bin ‘Ammar al-Asadi berkata,

“Suatu ketika kami keluar (pergi) bersama salah seorang mu’allim yang shalih mengantarkan jenazah. Bersamanya ada beberapa orang sahabatnya. Tiba-tiba, dalam perjalanannya itu, ia melihat beberapa ekor anjing yang berkumpul. Sebagiannya tengah bermain-main dengan sebagian yang lain, berguling-guling dan ada yang menjilati yang lain. Mu’allim tersebut berkata, “Lihatlah anjing-anjing ini! Alangkah baiknya perangai sebagian mereka kepada sebagian yang lain.”

Ahmad bin ‘Ammar melanjutkan, “Kemudian kami pun pulang setelah menguburkan jenazah itu, dan sebuah bangkai telah dilemparkan. Anjing-anjing tadi berkumpul, sebagiannya berkelahi dengan sebagian yang lain. Yang ini merebut dari yang itu. Sebagian lagi menggonggong kepada yang lain. Mereka saling berkelahi demi bangkai itu. Mu’allim tersebut menoleh ke sahabat-sahabatnya lalu berujar kepada mereka, “Apakah kalian melihat wahai sahabat-sahabatku, selama dunia tidak ada di antara kalian maka kalian bersaudara. Namun ketika dunia muncul di antara kalian, maka kalian berkelahi deminya persis berkelahinya anjing-anjing tadi demi sebuah bangkai.”

(Mukhtashar Taariikh Dimasyq karya Ibnu Asakir: 1/ 378)

Wahai Istri Cukup Lakukan 4 Hal Ini Maka Masya Allah Balasannya

Ingin Menjadi Istri Sholehah Cukup Lakukan 4 Hal Ini

Salah Satu Faedah Dari Dauroh Islami Karakteristik Sifat-Sifat Istri yang Shalihah & Suami yang Shalih

Berbahagialah wahai para istri, dengan menjalankan dua ketaatan, anda bisa masuk surga Allah ta’la dari pintu mana saja yang anda kehendaki.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Apabila seorang istri melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan ta’at kepada suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya; ‘Masuklah kamu ke dalam syurga dari pintu mana saja yang kamu inginkan’.”. (HR Ibnu Hibban dan Ahmad 1573 di Shahihkan oleh syaikh al albani dalam Al Jami’ Ash Shaghir)

Dalam hadist yang mulia di atas terdapat faidah yang besar, didalamnya ada dua ketaatan yang harus di lakukan bagi seorang istri, taat kepada Allah ta’la dan Taat kepada suaminya.

Taat kepada Allah yaitu mentaati perintah Allah yang wajib seperti Shalat 5 waktu dan Puasa pada bulan suci ramadhan dan kewajiban-kewajiban lainya.

Kemudian bukti ketaatan istri terhadap suaminya ialah dia jaga kehormatan dirinya, dan ia mentaati suaminya, jika suaminya memerintahkan sesuatu yang ma’ruf (baik).

Maka berbahagialah seorang istri yang ta’at kepada Allah ta’la dan ta’at kepada Suaminya, inilah diantara karakteristik sifat-sifat Istri yang shalihah.

Allahu ‘Alam

Abu Yusuf Dzulfadhli al Maidany

Baca Juga: Sikap Istri Pertama Ketika Madunya Bersikap Tidak Baik Kepadanya

Solusi Untuk Bagi Yang Ingin Nikah Muda Tapi Belum Diizinkan Orang Tua

Assalamu’alaikum, ustadz bagaimana caranya agar orang tua saya memberikan izin kepada saya untuk nikah, karena saya tidak diizinkan nikah karena alasan masih muda? padahal calonnya sudah ada, dan saya juga gak mau lama-lama lagi ustadz

Jawaban:

  1. Berdo’a minta kepada Allah agar dimudahkan urusan antum.
  2. Jelaskan kepada orang tua dengan baik, bahwasannya antum sudah sangat darurat sudah sangat ingin segera menikah.
  3. Jika antum khawatir terjatuh dari perbuatan zina, maka hukumnya sudah wajib, adapun jikaantum tidak khawatir terjatuh dari perbuatan zina maka hukumnya sunnah, karena hukum menikah tergantung kondisi seseorang, bisa Wajib, Mustahab (sunnah), Haram dan Makruh sebagaimana yang Masyhur dari kalangan mazhab Maliki ,Syafi’i dan Hambali. (lihat,shahih Fiqih sunnah III/75)
  4. Minta tolong kepada Keluarga dekat antum baik itu kakak, paman atau kakek dan yang lainnya untuk ngomong ke orang tua antum bahwasanya antum ingin segera menikah.
  5. Kalau orang tua belum izinkan untuk menikah, maka hendaknya antum bersabar, apalagi umur antum masih muda.
  6. Jauh tempat-tempat yang membuat fitnah.
  7. Melihat umur antum masih muda, perbanyak menuntut ilmu, datang ke majelis ilmu.
  8. Tetap berakhlaq yang baik terhadap orang tua denagn akhlak yang mulia.
  9. Hendaknya sebelum menikah antum bekerja, atau mencari sambilan kerja jika saat ini antum masih sekolah atau kuliah, untuk mempersiapkan bekal nikah, dan agar orang tua dan Camer (Calon Mertua) yakin dengan antum, bahwa antum siap menjadi seorang suami dan ayah bagi anak- anak antum nantinya.
  10. Yakinlah sesuatu yang kita kerjakan atau kita amalkan karena Allah ta’la, niscaya akan Allah mudahkan.

 

Allahu ‘alam

Dijawab oleh
Ust.Abu Yusuf Dzulfadhli M,BA.

2 akan kembali, Hanya 1 yang tetap setia mendampingi

Saudaraku,

Keluarga yang kita cintai, akan kita tinggalkan.
Harta yang kita miliki akan kita tinggalkan.
Karena kita tau bahwa hidup didunia ini, kita tidak kekal, tidak abadi.
Umur yang di berikan kita terbatas.
Dan kematian itu pasti.
Dan kita akan kembali suatu saat nanti.
Sudah saatnya kita berbenah diri, karena amal lah yang menemani kita nanti,
Kita hanya berusaha, berharap, agar amalan kita di dunia bermanfaat di hari nanti.
Karena harta dan keluarga akan meninggalkan kita.

Dari Anas bin Malik menuturkan, Rasulullah ﷺ bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Mayyit diiringi tiga hal, yang dua akan kembali sedang yang satu terus menyertainya, ia diiringi oleh keluarganya, hartanya dan amalnya. Harta dan keluarganya akan kembali, sedang amalnya akan terus tetap bersamanya.” (HR.Bukhari 6514 dan Muslim 2690)

Semoga Allah menerima Amal Ibadah kita.

Abu Yusuf Dzulfadhli al Maidani

Nasehat Salafus Shalih Agar Menjauhi Perbuatan Dosa

Sesungguhnya Kebaikan itu memiliki sinar di wajah, cahaya didalam hati, meluaskan rezeki, dan menguatkan anggota badan, serta  kecintaan di hati-hati manusia. Adapun keburukan itu memiliki hitam (kegelapan;pent) diwajah, kegelapan didalam hati, kelemahan di badan, dan kekurangan rezeki, serta kebencian di hati-hati manusia. (Ad-Dau wad Dawa’hal,86)

Nasehat Waki’ kepada Imam Syafi’i rahimahullah

قال الشافعي-رحمه الله- :

شكوت إلى وكيع سوءحفظي              فأرشدني إلى ترك المعاصي

و قال اعلم بأن العلم فضل                 وفضل الله لا يؤتاه عاصي

Berkata Imam Syafi’i rahimahullah:

“Saya mengadu kepada Waki’ mengenai buruknya hafalanku, Maka beliaupun menasehatiku agar meninggalkan maksiat, Kemudian beliu berkata: ketahuilah, bahwasannya ilmu itu adalah keutamaan dan Keutamaan Allah tidak diberikan kepada orang bermaksiat.” (Diwaan AsSyafi’I (54), Ad-Dau  wad Dawa’hal,84)

Nasehat Bilal bin sa’ad

قال الإمام أحمد:حدثنا الوالد ; قال :سمعت الأوزعي يقول :سمعت بلال بن سعد يقول :  ولا تنظر صغر المعصية ،ولكن انظر من عصيت

Berkata Imam Ahmad  Didalam Kitab az-Zuhdu (460): Walid menceritakan kepada kami, beliau berkata: aku mendengar Al auzai’ berkata: aku mendengar Bilal bin sa’ad berkata: ”Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat ,akan tetapi lihatlah siapa yang engkau maksiati.”

Nasehat Dzu Nun

 و قال ذوالنون  :من خان الله في السر ،هتك الله في العلانية

Berkata Dzu Nun: ”Barang siapa yang berkhianat (bermaksiat; pent) kepada Allah secara tersembunyi,
maka Allah akan membuka aibnya di khalayak ramai. (Ad-Dau  wad Dawa’hal, 84)

Nasehat Para Salaf

Berkata sebagian Salaf :

“Maksiat mengantarkan kepada perbuatan Kekufuran, Sebagaimana Ciuman mengantarkan kepada perbuatan Jima’, dan nyanyian mengantarkan kepada perbuatan zina, dan pandangan mengantarkan kepada Mabuk Cinta, dan Sakit itu mengantarkan kepada Kematian serta bid’ah mengantarkan kepada kesesatan” (Ad-Dau  wad Dawa’ hal,80)

Berkata sebagian Salaf:

“Tatkala dosa menimpa kalian maka Allah menimpakan azab kepada kalian dengan kekuasaan-Nya.” (Ad-Dau  wad Dawa’ hal, 100)

Nasehat Abdullah bin Abbas

Berkata Abdullah bin Abbas :
”Sesungguhnya Kebaikan itu memiliki sinar di wajah, cahaya didalam hati, meluaskan rezeki, dan menguatkan anggota badan, serta  kecintaan di hati-hati manusia. Adapun keburukan itu memiliki hitam (kegelapan;pent) diwajah, kegelapan didalam hati, kelemahan di badan, dan kekurangan rezeki, serta kebencian di hati-hati manusia.” (Ad-Dau wad Dawa’hal,86)

Nasehat Abdullah bin Mubarak

Berkata Abdullah bin Mubarak:

“Aku melihat Dosa-dosa itu mematikan hati. Dan sungguh Dosa-dosa itu mewariskan kehinaan yang  melekat. Dan meniggalkan dosa-dosa merupakan hidupnya hati. Dan merupakan kebaikan  bagi dirimu adalah meninggalkan dosa-dosa itu. Dan tidaklah yang merusak agama ini melainkan raja-raja, ulama suu’ (buruk) dan ahli ibadah (yang tidak berilmu).” (Ad-Dau wad Dawa’ hal,93)

Perkataan Musa bin Mas’ud

Berkata Musa bin Mas’ud:

كنا إذا جلسنا إلى سفيان كأن النار قد أحاطت بنا لما نرى من خوفه وجزعه

“Dahulu kami ketika duduk bersama (di majelis,pent) Sufyan, sungguh seakan – akan kami diliputi Api Neraka, tatkala kami melihat dari sikapnya yang khauf (Takut) dan cemas.” (Tazkiyatun Nufûs hal,115)

Semoga Allah ta’la senantiasa menjauhkan kita dari perbuatan dosa.

Allahu ‘alam

Abu Yusuf Dzulfadhli Al Maidani

Referensi:
1. Ad-Dau  wad Dawa’ Oleh Ibnul Qoyyim al Jauziyah, Tahqiq Syaikh Ali Hasan Al Halabi, Cet,Daar Ibnul Juziyah)

2. Tazkiyatun Nufûs,oleh Ahmad Farid,Cet,Dârul Aqidah litturats.

Apakah Menikah Harus Menunggu Kita Sudah Mapan?

Pertanyaan:

Ustadz, ana ingin menikah tapi belum punya kendaraan dan rumah, dan rasanya sangat kurang enak ketika sudah menikah masih tinggal di rumah orang tua.

Jawaban:

Menikah Tidak Harus Mapan Terlebih Dahulu

Menikah tidak harus  memiliki rumah megah terlebih dahulu, kendaraan mewah, dan pekerjaan yang mapan,dahulu  pada zaman nabi shalallahu a’laihi wa sallam  ada seseorang pemuda yang ingin menikah akan tetapi  ia tidak memiliki apa-apa.

Disebutkan dalam satu riwayat,dari Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu ia berkata;

جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنِّي وَهَبْتُ مِنْ نَفْسِي فَقَامَتْ طَوِيلًا فَقَالَ رَجُلٌ زَوِّجْنِيهَا إِنْ لَمْ تَكُنْ لَكَ بِهَا حَاجَةٌ قَالَ هَلْ عِنْدَكَ مِنْ شَيْءٍ تُصْدِقُهَا قَالَ مَا عِنْدِي إِلَّا إِزَارِي فَقَالَ إِنْ أَعْطَيْتَهَا إِيَّاهُ جَلَسْتَ لَا إِزَارَ لَكَ فَالْتَمِسْ شَيْئًا فَقَالَ مَا أَجِدُ شَيْئًا فَقَالَ الْتَمِسْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ فَلَمْ يَجِدْ فَقَالَ أَمَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ شَيْءٌ قَالَ نَعَمْ سُورَةُ كَذَا وَسُورَةُ كَذَا لِسُوَرٍ سَمَّاهَا فَقَالَ قَدْ زَوَّجْنَاكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ

Ada seorang wanita datang kepada Rasulullah dan berkata, “Sesungguhnya aku menghibahkan diriku.” Wanita itu berdiri agak lama, lalu seorang laki-laki pun berkata, “Nikahkahkanlah aku dengannya, jika memang Anda tidak berhasrat padanya.” Beliau bertanya: “Apakah kamu memiliki sesuatu untuk maharnya?” laki-laki itu berkata, “Aku tidak punya apa-apa kecuali kainku ini.” Beliau bersabda: “Jika kamu memberikannya dan kamu duduk tak berkain. Carilah sesuatu.” Laki-laki itu menjawab, “Aku tidak mendapatkan sesuatu.” Beliau bersabda lagi: “Carilah, meskipun hanya berupa cincin besi.” Namun laki-laki itu ternyata tak mendapatkan sesuatu, akhirnya beliau bertanya: “Apakah kamu hafal sesuatu dari Al Qur`an?” laki-laki itu menjawab, “Ya, yaitu surat ini dan ini.” Ia menyebutkannya. Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya aku telah menikahkanmu dengan wanita itu dengan mahar hafalan Al Qur`anmu.” (HR.Bukhari, no 5135)

Carilah Kecukupan Dengan Menikah

Allah ta’la berfirman :

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. ( Qs.An Nuur :32).

Pada Firman Allah ta’la:

{وَأَنْكِحُوا الأيَامَى مِنْكُمْ}

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian. (An-Nur: 32).

Hal ini merupakan perintah untuk Menikah.

Segolongan ulama berpendapat bahwa setiap orang yang mampu kawin diwajibkan melakukanya. Mereka berpegang kepada makna lahiriah hadits Nabi yang berbunyi:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ” 

Hai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu menanggung biaya perkawinan, maka hendaklah ia Menikah. Karena sesungguhnya Menikah itu lebih menundukkan pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan. Dan barang siapa yang tidak mampu, hendaknyalah ia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu dapat dijadikan peredam (berahi) baginya. (HR.Bukhari dan Muslim)

Telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa ia pernah mengatakan, “Carilah kecukupan dari menikah, karena Allah ta’la telah berfirman: ‘Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya (An-Nur: 32).”

( Tafsir Ibnu Katsir 1331,Cet Daar Ibnu Hazm).

Allah akan menolong hambanya yang ingin menikah agar tidak terjatuh dalam perbuatan dosa

Dalam satu riwayat di sebutkan kan,

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah bersabda:

ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمُ : الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَالْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الْأَدَاءَ، وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ “. 

“Tiga golongan yang pasti Allah tolong; orang yang berjihad di jalan Allah, budak yang ingin merdeka dari tuannya (dengan tebusan) dan orang yang ingin menikah agar dirinya terjaga dari dosa.” (HR.Ahmad 9258,Tirmidzi 1655 dan Nasai’ 3120)

Pada kalimat,

والناكح الذي يريد العفاف ; أي العفة من الزنا

Orang yang ingin menikah agar dirinya terjaga dari dosa, yaitu terjaga dari perbuatan zina. (Tuhfatul Ahwazi bi Syarhi Jaami’ Tirmidzi)

Persiapkan Bekal Sebelum Menikah

Ketika anda ingin menikah maka  Hendaknya  anda mempersiapkan  bekal, yaitu bekal ilmu dan harta.

Dari sisi ilmu,hendaknya anda belajar yang berkaitan dengan Pernikahan yang sesuai syar’i,

Adapun dari sisi harta,  karena bagaimanapun saat sekarang ini menikah butuh modal, maka hendaknya ia mempersiapakannya,dengan bekerja keras, menabung dan lain sebagainya sesuai kemampuan anda, setelah itu tawakkal kepada Allah ta’la dan jangan lupa berdo’a kepada Allah ta’la agar segala urusan di mudahkan.

Allahu ‘alam.

Dijawab oleh
Ust.Abu Yusuf Dzulfadhli M,BA.

Cara Menghidupkan Dan Melembutkan Hati Yang Keras Karena Maksiat

Pertanyaan :

Bagaimana cara untuk menghidupkan dan melembutkan hati yang telah mati dan keras karena perbuatan maksiat, mohon nasihatnya ustadz

Jawaban :

Seorang yang bermaksiat maka hatinya akan hitam dan apabila ia bertaubat maka hatinya kembali menjadi bersih. Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ beliau bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ
{ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ }

“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka di titikkan dalam hatinya sebuah titik hitam dan apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan dan apabila ia kembali maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutup hatinya, dan itulah yang diistilahkan “Ar raan” yang Allah sebutkan: kallaa bal raana ‘alaa quluubihim maa kaanuu yaksibuun.(QS. Almuthaffifin 14).” (HR.Tirmidzi,3334 Ia berkata; hadits ini hasan shahih)

Kemudian sebab atau faktor seseorang itu bermaksiat, hal ini karena disebabkan lemahnya keimanannya, ada dua faktor yang menyebabkan seseorang lemah imannya yaitu faktor pengaruh dari dalam (internal) dan faktor Pengaruh dari luar (eksternal). ( lihat Ziyadatul Iman Wa Nuqshonuhu 248, Oleh Syaikh Abdurrozak bin Abdul Muhsin)

1. Faktor Dhakhilyah (internal) dari dalam, yaitu :

  1. al Jahlu : Kebodohan
  2. al Ghaflah : Lalai
  3. Al I’radh wa An Nisyan : Berpaling dan Lupa
  4. An Nafsul ammratu bis Suu’ : Hawa nafsu yang mengantarkan kepada perbuatan yang buruk.
  5. Fi’lul Ma’ashi : Perbuatan dosa dan yang lainnya.

2. Faktor Kharijiyah (eksternal) dari Luar yaitu :

  1. Syaithan : Goda’an Setan
  2. Quronaus Suu’ : Teman yang buruk.
  3. Ad Dunya wa fitnatuha : Fitnah Dunia
  4. Mendengarkan Musik (Nyanyian), dan yang lainnya.

(Lihat Asbab Ziyadatul Iman wa Nuqshanuhu, oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim alhamd)

Kiat- Kiat Menghidupkan Dan Melembutkan Hati

1. Beristighfar dan Bertaubat dari dosa

Seorang yang bertakwa yang menjauhi dosa dan maksiat dia akan mendapatkan ketenangan jiwa, adapun orang yang bermaksiat dia akan merasakan kerasnya hati.

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ beliau bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ
{ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ }

“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka di titikkan dalam hatinya sebuah titik hitam dan apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan dan apabila ia kembali maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutup hatinya, dan itulah yang diistilahkan “Ar raan” yang Allah sebutkan: kallaa bal raana ‘alaa quluubihim maa kaanuu yaksibuun.(QS. Almuthaffifin 14).” (HR.Tirmidzi,3334 Ia berkata; hadits ini hasan shahih)

Pada hadist diatas, dapat kita ambil faidahnya, yaitu apabila seseorang yang meninggalkan perbuatan dosa dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya akan dibersihkan kembali.

2. Menjaukan diri dari perbuatan dosa dan maksiat.

Dosa dapat mematikan hati, dan menjauhkannya dapat menghidupkan hati. Berkata Abdullah bin Mubarak :

Aku melihat Dosa-dosa itu mematikan hati
Dan sungguh Dosa-dosa itu mewariskan kehinaan yang  melekat
Dan meniggalkan dosa-dosa merupakan hidupnya hati
Dan merupakan kebaikan  bagi dirimu adalah meninggalkan dosa-dosa itu
Dan tidaklah yang merusak agama ini melainkan raja-raja, ulama suu’ (buruk) dan ahli ibadah (yang tidak berilmu).
(Ad-Dau wad Dawa’(93) Oleh Ibnul Qoyyim al Jauziyah, Tahqiq Syaikh Ali Hasan Al Halabi, Daar Ibnul Juziyah)

3. Berzikir mengingat Allah

Seseorang yang berzikir kepada Allah, maka hatinya merasa tenteram.

Allah ta’la berfirman :

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Qs.Ar Ra’du 28).

4. Membaca Al Qur’an

Al Qur’an merupakan obat penyakit yang ada di dalam hati.

Allahu ta’la berfirman :

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Qs.al Isra : 82)

Berkata ustman bin affan radhiallahu ‘anhu

لو طهرت قلوبنا ما شبعت من كلام الله

Kalau sekiranya hati kita ini bersih, niscaya kita tidak akan puas membaca Kalamullah (Al Qur’anul Karin).
(Ighatsatul Lahfan 1/64).

5. Menuntut Ilmu dan Mengamalkannya.

Menuntut Ilmu dan Mengamalkannya termasuk sebab menjadi hati tenang dan bahagia.

Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah ﷺ telah bersabda:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Al Qur’an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. (HR.Muslim,2699)

Dan Allah ta’la akan memberikan kehidupan yang baik kepada orang yang beramal shalih.

Allah Ta’la beriman :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Qs.An Nahl :97)

6. Mentauhidkan Allah

Allahu ta’la berfirman :

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُون.َ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat (Qs.As Syu’ara :88-89)

Didalam Tafsir ibnu katsir di sebutkan bahwa hati yang selamat diantara maknanya adalah hati yang bersih dari kesyirikan,dan abdullah bin abbas radhiallahu ‘anhu menyatakan makna

إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Yaitu hati yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah. (Tafsir al Qur’anul A’zhim 1376, oleh Ibnu Katsir, Cet Daar Ibnu Hazm)

7. Jadikan Hati Ini Orientasinya adalah Akhirat

Allah ta’la berfirman :

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (Qs.Al ‘Ala : 17)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda :

مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

“Barangsiapa menjadikan dunia sebagai ambisinya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, dan Allah akan menjadikannya miskin. Tidaklah ia akan mendapatkan dunia kecuali apa yang telah di tetapkan baginya. Dan barangsiapa menjadikan akhirat sebagai niatannya, maka Allah akan menyatukan urusannya dan membuatnya kaya hati, serta ia akan di beri dunia sekalipun dunia memaksanya.” (HR.Ahmad 20608, Ibnu Majah 4105, Tirmizdi, 2465. Di shahihkan oleh Syaikh al Albani di dalam Silsilah al ahadiits Shahihah 950)

8. Berbuat Kebaikan

Berkata Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu :”Sesungguhnya Kebaikan itu memiliki sinar di wajah, cahaya didalam hati, meluaskan rezeki, dan menguatkan anggota badan, serta  kecintaan di hati-hati manusia. Adapun keburukan itu memiliki hitam (kegelapan;pent) diwajah, kegelapan didalam hati, kelemahan di badan, dan kekurangan rezeki, serta kebencian di hati-hati manusia.” (Ad-Dau  wad Dawa’(86) Oleh Ibnul Qoyiim,Tahqiq Syaikh Ali Hasan  Al Halabi cet,Daar Ibnul Juziyah)

9. Mengingat Mati

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

“Banyak-banyaklah mengingat pemutus kenikmatan yaitu kematian” (HR.Tirmidzi. 2307, Berkata Abu Isa : Hadits ini hasan)

Dari Hani` bekas budak ‘Utsman radhiallahu ‘anhu dia berkata;

كَانَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ إِذَا وَقَفَ عَلَى قَبْرٍ يَبْكِي حَتَّى يَبُلَّ لِحْيَتَهُ فَقِيلَ لَهُ تَذْكُرُ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ وَلَا تَبْكِي وَتَبْكِي مِنْ هَذَا قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ قَالَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلَّا وَالْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ

“Jika Utsman bin ‘Affan berhenti di suatu kuburan, dia menangis sehingga jenggotnya basah. Di tanyakan kepadanya; “Apakah kamu ingat surga dan neraka?, janganlah kamu menangis, apakah kamu menangis hanya karena ini?” dia menjawab; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kuburan adalah tempat singgah pertama akhirat. Jika selamat darinya, maka setelahnya pun ia akan lebih mudah (urusannya) namun jika ia tidak selamat darinya, maka sesudahnya pun ia akan lebih sulit lagi.” Utsman berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Aku tidak pernah melihat suatu pemandangan melainkan kuburan itu lebih buruk dari dari segalanya.”‘ (HR.Ahmad 425, Ibnu Majah, 4267, Tirmidzi 2308 Berkata Abu Isa : Hadits ini hasan gharib)

10. Berdoa’ Kepada Allah ta’la

Allahu ta’la berfirman :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Qs.Al Baqarah: 186)

Berdo’a Minta Keteguhan Hati

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahhu wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.” Setelah itu, Rasulullah ﷺ berdoa; ‘Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!’ (HR.Muslim,2654)

Berdo’a Minta Petunjuk

Nabi ﷺ bahwasanya beliau pernah berdoa:

ُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

“ALLOOHUMMA INNII AS-ALUKAL HUDAA WATTUQOO WAL’AFAAFA WALGHINAA “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, terhindar dari perbuatan yang tidak baik, dan kecukupan (tidak minta-minta,).” ( HR.Muslim, no 2721).

Demikian, semoga Allah senantiasa menghidupkan dan melembutkan hati kita.

Allahu ‘alam.

Dijawab oleh
Ust.Abu Yusuf Dzulfadhli M,BA.

Mendapatkan Pahala Yang Besar Dengan Amalan Yang Sedikit

1. Melafazkan zikir Subhaanallahul’azhiim dan Subhanallah wabihamdihi

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

Dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ beliau bersabda: “Dua kalimat ringan dilisan, berat ditimbangan, dan disukai Ar Rahman yaitu Subhaanallahul’azhiim dan Subhanallah wabihamdihi.”
( HR.Bukhari, No 6406)

2. Mendirikan shalat 2 rakaat Dhuha

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

Dari Abu Dzarr dari Nabi ِﷺ bahwa beliau bersabda: “Setiap pagi dari persendian masing-masing kalian ada sedekahnya, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar ma’ruf nahyi mungkar sedekah, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha.” (HR.Muslim, 720)

3. Mengiringi dan Menyaksikan Jenazah

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : ((مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّيَ فَلَهُ قِيرَاطٌ وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ ))قِيلَ :وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ : ((مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ)).متفق عليه.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata; Telah bersabda Rasulullah ﷺ: “Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menyolatkannya maka baginya pahala satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menguburkannya maka baginya pahala dua qirath”. Ditanyakan kepada Beliau; “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?” Beliau menjawab: “Seperti dua gunung yang besar”. (Muttafqqun ‘alaihi).

4. Membaca Satu Huruf Dari Al- Qur’an

عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Dari Abdullah bin Mas’ud berkata; Rasulullah ِﷺ bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an), maka baginya satu pahala kebaikan dan satu pahala kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali, aku tidak mengatakan ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAAM satu huruf dan MIIM satu huruf.” (HR.Tirmidzi, no 2910)

5. Berwudhu

عَنْ عُثْمَانَ بِنْ عَفَّانَ رَضِيَ اللّهَ عَنْهُ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِﷺ : (( مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ )).رواه مسلم.

Dari Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah ِﷺ bersabda: “Barangsiapa berwudhu, lalu membaguskan wudhunya, niscaya kesalahan-kesalahannya keluar dari badannya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya.” (HR.Muslim, no 245).

6. Shalat Fajar 2 Raka’at

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللّهُ عَنْهَا قَالَتْ :عَنِ النَّبِيِّﷺ قَالَ:(( رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا)).رواه مسلم.

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dari Nabi ﷺ , beliau bersabda: “Dua rakaat fajar lebih baik daripada dunia seisinya.” ( HR.Muslim, no 725)

7. Berdzikir di masjid setelah shubuh

Dari Anas bin Malik, Nabi‘ ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian tetap duduk di masjid sampai terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat maka dia mendapat pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna.” (HR. At Tirmidzi dan dinilai hasan oleh Al Albani)

8. Membaca dzikir ketika masuk pasar atau tempat keramaian

رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang masuk pasar kemudian dia membaca: laa ilaha illallahu wahdahu laa syarikalahu lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumiit wa huwa hayyun laa yamuutu, biyadihil khair, wa huwa ‘ala kulli syai’in qadiir [tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah tiada sekutu bagiNya, milikNyalah seluruh kerajaan. Dan milikNyalah seluruh pujian, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahahidup dan tidak mati, di TanganNyalah segala kebaikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu] maka Allah catat untuknya sejuta kebaikan, Allah hapuskan sejuta kesalahan, dan Allah angkat untuknya satu juta derajat.” (HR. At Tirmidzi, Al Hakim, Ad Darimi dan dinilai hasan oleh Al Albani)

9. Shalat berjama’ah di masjid

Dari Abu Umamah, Nabi ‘ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang keluar dalam keadaan suci, menuju masjid untuk melaksanakan shalat jama’ah maka pahalanya seperti pahala seperti orang yang sedang haji dalam keadaan ihram.” (HR. Abu Dawud dan dinilai hasan oleh Al Albani)

10. Berdzikir ketika terbangun dari tidur

Dari Ubadah bin Shamit, Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang terbangun (nglilir) ketika tidur malam kemudian dia membaca: laa ilaha illallahu wahdahu laa syarikalahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadiir. Alhamdulillah, wa subhanallah, wa laa ilaha illallah wallahu akbar wa laa haula wa laa quwwata illa billah [tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata tiada sekutu bagiNya, milikNyalah seluruh kerajaan, milkNyalah segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Segala puji milik Allah, Mahasuci Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, Allah Mahabesar. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah] kemudian dia beristighfar atau berdo’a maka akan dikabulkan. Jika dia berwudhu kemudian shalat dua rakaat maka shalatnya diterima.” (HR. Bukhari & Abu Dawud)

11. Membaca Shalawat

Dari Abu Hurairah, Nabi ‘ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang membaca shalawat untukku sekali, maka Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain: “Barangsiapa yang membaca shalawat untukku sekali, maka Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali, dihapuskan sepuluh kesalahan, dan diangkat sepuluh derajat.” (HR. An Nasa’i, shahih)

12. Menjawab adzan dan membaca do’a setelah adzan

Dari Jabir bin Abdillah, Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang mendengarkan adzan kemudian dia membaca do’a: Allahumma rabba hadzihid da’watittammah washshalatil qa’imah, ati muhammadanil wasilata wal fadhilah wab’ats-hu maqamam mahmudanilladzi wa’adtahu [Ya Allah, Rabb pemilik panggilan yang sempurna dan shalat wajib yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan fadhilah. Bangkitkanlah beliau ke tempat terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya.] maka dia berhak mendapat syafaatku pada hari kiamat.” (HR. Bukhari)

13. Membaca dzikir setiap pagi dan sore. Diantara dzikir yang disyariatkan adalah membaca : ‘subahanallah wa bihamdihi‘’

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa di waktu pagi dan sore membaca: ‘subahanallah wa bihamdihi‘ seratus kali maka tidak ada seorang pun yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala yang lebih baik dari pahala yang dia bawa, kecuali orang yang membaca seperti yang dia baca atau lebih banyak.” (HR. Muslim)

14. Mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan

Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang mengajak orang lain untuk melakukan kesesatan dan maksiat maka dia mendapat dosa sebagaimana dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)

15. Rajin Beristighfar

Dari Ibn Abbas, Nabi ﷺ bersabda:“Barangsiapa yang rajin beristighfar maka Allah akan berikan jalan keluar setiap ada kesulitan, Allah berikan penyelesaian setiap mengalami masalah, dan Allah berikan rizki yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud, hasan lighairihi)

17. Melafazkan Sayidul Istighfar

عن شَدَّادُ بْنُ أَوْسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ قَالَ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

Dari Syaddad bin Aus radliallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ ; “Sesungguhnya istighfar yang paling baik adalah; kamu mengucapkan: ‘ALLAHUMMA ANTA RABBI LAA ILAAHA ILLA ANTA KHALAQTANI WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU ABUU`U LAKA BIDZANBI WA ABUU`U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA FAGHFIRLI FA INNAHU LAA YAGHFIRU ADZ DZUNUUBA ILLA ANTA (Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu) ‘.” Beliau bersabda: ‘Jika ia mengucapkan di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk dari penghuni surga. Dan jika ia membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk dari penghuni surga.’ ( HR.Bukhari,no 6306).

18. Melafalkan Dzikir HASBIYALLAAH LAA ILAAHA ILLA HUWA ‘ALAIHI TAWAKKALTU WAHUWA RABBUL ‘ARSYIL ‘AZHIIM

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
مَنْ قَالَ إِذَا أَصْبَحَ وَإِذَا أَمْسَى حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ سَبْعَ مَرَّاتٍ كَفَاهُ اللَّهُ مَا أَهَمَّهُ صَادِقًا كَانَ بِهَا أَوْ كَاذِبًا

Dari Abu Darda` radliallahu ‘anhu berkata; “Barang siapa yang ketika pagi dan sore mengucapkan; HASBIYALLAAH LAA ILAAHA ILLA HUWA ‘ALAIHI TAWAKKALTU WAHUWA RABBUL ‘ARSYIL ‘AZHIIM (cukuplah Allah bagiku tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Dia, hanya kepadanya aku bertawakkal karena Dialah Rabb pemilik ‘Arsy yang agung) tujuh kali, maka Allah akan mencukupkan (menyelamatkannya) dari kesusahan-kesusahan yang membelitnya, baik dia mengucapkannya secara jujur, atau pura-pura (tanpa ada niat, spontan).” (HR.Abu Daud 5081)

Semoga Allah ta’la memudahkan kita mengamalkannya dengan baik.

Allahu ‘A’lam.

Abu Yusuf Dzulfadhli M,BA.

Risalah Untuk Sang Bidadari

Wahai saudariku, engkau adalah perhiasan dunia laksana permaisuri yang bersemai di istana raja, yang di hiasi dengan keindahan suasana syahdunya, dan engkau  bagaikan mutiara yang tertutup rapi yang belum pernah di sentuh walau sehelai benang sekalipun, dan engkaulah yang membuat dunia ini bercahaya, dan besinar terang karena ke shalihan yang terpancar dari jiwamu atas izin Rabb yang Maha Perkasa.

Pernahkah engkau mendengar risalah yang indah, dan kalau sekiranya untaian ini diperdengarkan kepada sang peminang-peminang bidadari surga Allah, niscaya akan berguncanglah jiwa mereka karena rindu ingin menggapainya, laksana busur yang lepas hingga menancap di dada-dada mereka. Nabi shalallahu’alhi wasallam besabda dengan lisannya yang mulia:

الدنيا متاع وخير متاع المرأة الصالحة) رواه مسلم)

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR.Muslim)

Wahai saudariku, maka ketahuilah! keshalihan akan memancar di setiap hati yang lembut selembut kapas dan seindah salju yang turun dari langit ,dan kesalihan itu akan tersirat di setiap desahan nafasmu, disetiap gerak lidahmu yang basah melafadzkan kalimat yang menentramkan jiwa, dan keshalihan itu akan memancar disetiap lemah gemulai bahasa tubuhmu yang indah karena ketakwaan yang ada pada dirimu, maka rawatlah ia sebagaimana engkau merawat bunga mawar yang indah merekah ketika di pandang .

Wahai saudariku, apakah yang hendak engkau cari! Perjalanan dunia sangatlah singkat, sementara perjalanan akhirat sangatlah panjang. Apakah engkau akan mencari kemuliaan selain islam? ataukah engkau mencari sesuatu yang fana laksana fatamorgana ? tidak wahai saudariku! kalau sekiranya dunia ini kekal niscaya kita akan mengejarnya sampai tetes darah penghabisan, akan tetapi wahai jiwa yang mengaku menjadi perhiasan dunia!maka ketahuilah dunia ini tidaklah kekal, kita akan meninggalkannya dan kita akan musnah ditelan masa.

Bukankah kita pernah mendengar Allah subhanallahu wa ta’ala berkata tentang hakikat dunia :

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ [٥٧:٢٠]

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Qs.Al-hadid:20)

Dan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bersabda dengan kalimat yang singkat akan tetapi maknanya luas bagikan langit dan bumi .

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا ؟ مَا أَنَا في الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Ada apa antara aku dengan dunia ini? Tidaklah aku berada di dunia ini kecuali bagaikan seorang pengendara/penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebuah pohon. Kemudian dia beristirahat sejenak di sana lalu meninggalkannya. (HR. Tirmidzi, dia berkata hadits hasan sahih)

Wahai saudariku, pernahkah engkau mendengar kisah para istri –istri yang durhaka dan berkhianat kepada sang Al-Khaliq  , karena mereka mendustakan utusan-utusa-Nya. Tatkala mereka mengumandangkan seruan yang memancarkan rahmat keseluruh alam.Siapakah mereka?Allah Azza wa jalla berkata :

“Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”. (Qs.At-tahrim:10)

Maka jadilah engkau seperti istri-istri yang di ridhai oleh Allah, yang menjaga kehormatan jiwa dan taat kepada rabbul ‘alamin karena keimanan yang tertanam di dalam dada mereka .

Allah Azza wa jalla berkata :

“Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.“(Qs.At-tahrim:11)

“Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.” (Qs.At-tahrim:12)

Wahai jiwa yang menginginkan ke shalihan, lihatlah! perjalanan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Ummahatul mukminin (istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan diantara salah satu tauladan yang baik dari istri-istri Rasulullah yang pertama adalah Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anha,begitu dahsyatnya kecintaan beliu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka tatkala datang kegundahan yang mencekam yang menimpa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disitulah tersemai cinta yang abadi karena Allah azza wa jalla ,apakah yang ia katakan?

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali dengan wahyu yang sudah terhujam di dadanya. Beliau menemui Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anha. dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.” Keluarganya menyelimuti beliau hingga hilang ketakutan beliau. Beliau menceritakan kisahnya di gua Hiraa kepada Khadijah radhiallahu ‘anha, “Aku khawatir terhadap apa yang menimpa diriku.” Khadijah berkata: “Tidak apa-apa. Demi Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakanmu selamanya. Sesungguhnya engkau selalu menyambung silaturahim, menolong banyak orang, memberi makan orang miskin, menghormati tamu, membantu orang-orang yang benar.”…(HR.Bukhari)

Subhanallah, lihatlah! sungguh indah perkataan yang terlontar dari lisan khadijah radhiallahu ‘anha kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,dan betapa indahnya kalau sekiranya semua wanita muslimah yang ada di bumi ini menjadikan wanita-wanita shalihah yang terdahulu menjadi suri tauladan yang baik karena mereka menyambut seruan Robbul’alamin niscaya mereka akan mendapatkan kemuliaan dunia dan akhirat.

Wahai saudariku! jikalau sekiranya sudah sampai tahapan seperti ini (wanita shalihah), maka jangan biarkan desahan setiap nafasmu membuat lalai dari mengingt-Nya karena Dialah kekasih kita yang hakiki dan tidaklah yang sangat kita harapakan melainkan Ridha-Nya Ampunan-Nya, Rahmat-Nya dan Surga-Nya. Wallahu’alam bishowab.

Al-Faqir ilallah : Abu Yusuf Fadhli al Maidani

15 Alasan Kenapa Kita Harus Menuntut Ilmu Syar’i

15 Alasan Kenapa Kita Harus Menuntut Ilmu Syar’i

1. Karena Allah akan mengangkat Derajat Orang yang berilmu.

Orang yang berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah ta’la baik dunia maupun akhirat.

Allah ta’la berfirman :

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Qs.Al-Mujādilah :11)

2. Karena Ilmu ,Warisan Para Nabi.

Seseorang yang menuntut ilmu syar’i, berarti ia telah mengambil warisan para nabi yaitu berupa ilmu syar’i.

Rasulullah ﷺ bersabda :

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris pada nabi dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu, maka siapa yang mengambilnya berarti ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR.Tirmizdi,2682,Abu Daud 3641,3642)

3. Karena Ilmu yang bermanfaat itu,ia akan kekal.

Lihat para sahabat dan para ulama, ilmu mereka terus bermanfaat walaupun mereka telah tiada (wafat), karena mereka mengajarkan ilmu kepada ummat, dengan lisan dan tulisan mereka, maka Allah kekalkan ilmu mereka dan pahala mereka terus mengalir.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR.Muslim ,1631).

4. Karena Kita Ingin Dimudahkan jalan menuju Surga

Sesorang yang menuntut ilmu, akan di mudahkan jalannya menuju surga Allah.

Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah ﷺ telah bersabda:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya.” (HR.Muslim 2699)

5. Mendapatkan Kebaikan

Allah menginginkan kebaikan bagi orang mau menuntut ilmu syar’i.

Dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan ,ia berkata, “Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda;

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki menjadi baik, maka Allah menjadikannya pandai terhadap urusan agamanya.” (HR.Bukhari,no 7312)

Maka hendaknya, sesorang menuntut ilmu syar’i,agar Allah ta’la senantiasa menginginkan kebaikan padanya.

6. Karena Nabi mengatakan boleh iri terhadap orang yang berilmu.

Hasad tidak di bolehkan, kecuali dua orang saja, orang berilmu dan orang yang dermawan,dalam rangka berlomba-lomba dalam kebaikan.

Dari Abdullah bin Mas’ud berkata; Nabi ﷺ bersabda :

َّ لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak boleh Hasad (mendengki) kecuali terhadap dua hal; (terhadap) seorang yang Allah berikan harta lalu dia pergunakan harta tersebut di jalan kebenaran dan seseorang yang Allah berikan hikmah( Ilmu,pent) lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR.Bukhari no 73).

7. Karena Menuntut Ilmu,akan menghilangkan kebodohanku

Seseorang dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, maka jika ia ingin mengetahui sesuatu hendaklah ia menuntut ilmu.

Allah ta’la berfirman :

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Qs.An-Naĥl :78)

Oleh karena itu dengan menuntut ilmu, seseorang itu akan menjadi berilmu.

8. Agar kita beramal sesuai apa yang di inginkan Rabb Kita dan Nabi Kita.

Beramal hendaknya di dasari dengan ilmu terlebih dahulu, apabila beramal tanpa ilmu, bisa jadi amalan tersebut tertolak, dan tidak di terima di sisi Allah ta’la, sebagaimana kata Imam bukhari rahimahullah dalam satu bab yang beliau tulis dalam kitab beliau “berilmu dahulu baru berucap dan beramal” .

Dari Aisyah,bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengamalkan suaru perkara yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak.”( HR.Muslim,no 1718)

9. Agar kita Bisa Berdakwah di Jalan Sang Rabb Kita

Dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Nabi ﷺ bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikan dariku sekalipun satu ayat”( HR.Bukhari,no 3461)

10. Kita Ingin ketentraman,ketenangan Hati dan Jiwa.

Allah ta’la berfirman :

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. ( Qs.Ar-Ra`d :28)

Dan Nabi ﷺ bersabda:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Al Qur’an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. (HR.Muslim no,2699).

11. Kita Ingin Hidup Bahagia dengan Ilmu dan Amal baik dunia maupun akhirat

Allah Ta’la berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Qs.An-Naĥl :97)

12. Karena orang yang berilmu seperti cahaya yang mampu menerangi (memberikan solusi) kepada orang lain.

Nabi ﷺ pernah bersabda:

“Pada jaman dahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian orang tersebut mencari orang alim yang banyak ilmunya. Lalu ditunjukan kepada seorang rahib dan ia pun langsung mendatanginya. Kepada rahib tersebut ia berterus terang bahwasanya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang dan apakah taubatnya itu akan diterima? Ternyata rahib( ahli ibadah pent) itu malahan menjawab; ‘Tidak. Taubatmu tidak akan diterima.’ Akhirnya laki-laki itu langsung membunuh sang rahib hingga genaplah kini seratus orang yang telah dibunuhnya. Kemudian laki-laki itu mencari orang lain lagi yang paling banyak ilmunya. Lalu ditunjukan kepadanya seorang alim yang mempunyai ilmu yang banyak. Kepada orang alim tersebut, laki-laki itu berkata; ‘Saya telah membunuh seratus orang dan apakah taubat saya akan diterima? ‘ *Orang alim itu menjawab; ‘Ya. Tidak ada penghalang antara taubatmu dan dirimu. Pergilah ke daerah ini dan itu, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Setelah itu, beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke daerahmu, karena daerahmu itu termasuk lingkungan yang buruk.’ Maka berangkatlah laki-laki itu ke daerah yang telah ditunjukan tersebut. Di tengah perjalanan menuju ke sana laki-laki itu meninggal dunia. Lalu malaikat Rahmat dan Azab saling berbantahan. Malaikat Rahmat berkata; ‘Orang laki-laki ini telah berniat pergi ke suatu wilayah untuk bertaubat dan beribadah kepada Allah dengan sepenuh hati.’ Malaikat Azab membantah; ‘Tetapi, bukankah ia belum berbuat baik sama sekali.’ Akhirnya datanglah seorang malaikat yang berwujud manusia menemui kedua malaikat yang sedang berbantahan itu. Maka keduanya meminta keputusan kepada malaikat yang berwujud manusia dengan cara yang terbaik. Orang tersebut berkata; ‘Ukurlah jarak yang terdekat dengan orang yang meninggal dunia ini dari tempat berangkatnya hingga ke tempat tujuannya. Mana yang terdekat, maka itulah keputusannya.’ Ternyata dari hasil pengukuran mereka itu terbukti bahwa orang laki-laki tersebut meninggal dunia lebih dekat ke tempat tujuannya. Dengan demikian orang tersebut berada dalam genggaman malaikat Rahmat.’ Qatadah berkata; ‘Al Hasan berkata; ‘Seseorang telah berkata pada kami bahwasanya laki-laki itu meninggal dunia dalam kondisi jatuh terlungkup.'” (HR.Muslim,no 2766 ).

Lihatlah hadist di atas menunujukkan bahwa, perbedaan antara ahli ilmu dengan ahli ibadah, orang yang berilmu bisa memberikan jalan keluar dari permasalahan yang di hadapi oleh seseorang.

13. Karena Kita Ingin Dekat Kalam Rabb Kita dan Kalam Nabi Kita.

Dari Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah berfirman;

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

Siapa yang memusuhi wali-KU, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan, jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah, maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. ( HR.Bukhari,no 6502)

14. Karena orang yang takut Kepada Allah adalah orang yang Alim ( berilmu)

Allah ta’la berfirman:

إنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Qs.Fāţir :28 )

15. Karena Menuntut Ilmu merupakan perintah Rabb Kita dan Nabi Kita.

Allah ta’la berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) yang berhak di sembah dengan benar kecuali Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu (Qs.Muhammad : 19).

Dari Anas bin Malik ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.(HR.Ibnu Majah no,224).

Demikian beberapa alasan kenapa kita harus menuntut ilmu syar’i.

Allahu ‘alam.

Ust.Abu Yusuf Dzulfadhli M,BA

Referensi :
1. _Kitabul Ilmi ,oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin, _Cet, Maktabah al Iman bin Manshur.
2. Hilyatu Thalibul ilmi, oleh Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid cet, Daarul Aqidah.

Wahai Para Pemuda, Merdekakan Hidupmu

1. Perkuat Aqidahmu dan Manhajmu

Ambilah Aqidah dan Manhajmu dari alQur’an dan sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih yaitu para sahabat.

2. Raihlah Cita-Cita Akhiratmu

Jadikanlah cita-citamu yang pertama adalah akhirat. Allah Ta’la berfirman: “Dan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”(Q.s Al-‘Alá :17). Allah Ta’la berfirman: “Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung” (Qs.’Āli Imrān :185)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda:

مَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ

Barangsiapa yang keinginannya hanya kehidupan akhirat maka Allah akan memberi rasa cukup dalam hatinya, menyatukan urusannya yang berserakan dan dunia datang kepadanya tanpa dia cari, dan barangsiapa yang keinginannya hanya kehidupan dunia maka Allah akan jadikan kemiskinan selalu membayang-bayangi di antara kedua matanya, mencerai beraikan urusannya dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sekedar apa yang telah ditentukan baginya.“(HR.Tirmidzi,No 2465)

3. Siapa Idolamu

Wahai para pemuda jadikanlah idolamu Rasulullah dan Para Sahabatnya.

Allah Ta’la berfirman : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs.Al-‘Aĥzāb:21)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُم

Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada zamanku (generasiku) (para sahabat)kemudian orang-orang setelah mereka (Tabi’in)kemudian orang-orang setelah mereka.(Tabi’ut Tabi’in).“(HR.Bukhari,no.2652)

4. Kenali Rabbmu,kenali Nabimu dan Pelajari Agamamu

Sudah seharusnya kita harus mengetahui & mempelajari Ma’rifatullah (Mengenal Allah), Ma’rifatun Nabiyihi (Mengenal Nabi-Nya) dan Mempelajari Islam beserta dalil-dalinya (Tsalasatul Ushul oleh, Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab).

5. Perhatikan Lingkunganmu

Kisah ini diriwayatkan dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinaan Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أنّ نَبِيَّ الله – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وتِسْعينَ نَفْساً ، فَسَأَلَ عَنْ أعْلَمِ أَهْلِ الأرضِ ، فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ ، فَأَتَاهُ . فقال : إنَّهُ قَتَلَ تِسعَةً وتِسْعِينَ نَفْساً فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوبَةٍ ؟ فقالَ : لا ، فَقَتَلهُ فَكَمَّلَ بهِ مئَةً ، ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرضِ ، فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ . فقَالَ : إِنَّهُ قَتَلَ مِئَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ ؟ فقالَ : نَعَمْ ، ومَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وبَيْنَ التَّوْبَةِ ؟ انْطَلِقْ إِلى أرضِ كَذَا وكَذَا فإِنَّ بِهَا أُناساً يَعْبُدُونَ الله تَعَالَى فاعْبُدِ الله مَعَهُمْ ، ولاَ تَرْجِعْ إِلى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أرضُ سُوءٍ ، فانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ ، فاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلائِكَةُ الرَّحْمَةِ ومَلائِكَةُ العَذَابِ . فَقَالتْ مَلائِكَةُ الرَّحْمَةِ : جَاءَ تَائِباً ، مُقْبِلاً بِقَلبِهِ إِلى اللهِ تَعَالَى ، وقالتْ مَلائِكَةُ العَذَابِ : إنَّهُ لمْ يَعْمَلْ خَيراً قَطُّ ، فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ في صورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ
– أيْ حَكَماً – فقالَ : قِيسُوا ما بينَ الأرضَينِ فَإلَى أيّتهما كَانَ أدنَى فَهُوَ لَهُ . فَقَاسُوا فَوَجَدُوهُ أدْنى إِلى الأرْضِ التي أرَادَ ، فَقَبَضَتْهُ مَلائِكَةُ الرَّحمةِ )) مُتَّفَقٌ عليه .

Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas ia pun mendatanginya dan berkata, ”Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah taubatnya diterima?” Rahib pun menjawabnya, ”Orang seperti itu tidak diterima taubatnya.” Lalu orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya. 

Kemudian ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang ‘alim. Lantas ia bertanya pada ‘alim tersebut, ”Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah taubatnya masih diterima?” Orang alim itu pun menjawab, ”Ya masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan taubat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu(yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.” 
Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat adzab. Malaikat rahmat berkata, ”Orang ini datang dalam keadaan bertaubat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah”. Namun malaikat adzab berkata, ”Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun”. Lalu datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, ”Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju -pen). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini.” Lalu mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya,ruhnya pun dicabut oleh malaikat rahmat.” ( HR.Muslim,No,2766) Qatadah berkata; ‘Al Hasan berkata; ‘Seseorang telah berkata pada kami bahwasanya laki-laki itu meninggal dunia dalam kondisi jatuh terlungkup.’.

6. Siapa yg menjadi Temanmu

Carilah teman yang shalih,dan jauhi teman-teman yang tidak baik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ

Seseorang tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang dia jadikan sebagai teman dekat.“(HR.Ahmad,no 8065)

Nabi mengibaratkan teman yang shalih seperti penjual minyak wangi,dan teman yang tidak shalih seperti pandai besi.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

Perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dengan pandai besi, bisa jadi penjual minyak wangi itu akan menghadiahkan kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu akan mendapatkan bau wanginya sedangkan pandai besi hanya akan membakar bajumu atau kamu akan mendapatkan bau tidak sedapnya.“( HR.Bukhari,no 5534).

7. Berbaktilah kepada Kedua Orangmu

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dia berkata;

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ
وَقَالَ ابْنُ شُبْرُمَةَ وَيَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ مِثْلَهُ

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “kemudian siapa lagi?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” dia menjawab: “Kemudian ayahmu.” ( HR.Bukhari,no5971)

Diantara Faidah berbakti kepada Orang Tua adalah :

1.Dikabulkan doa’nya. ( Lihat kisa Uweis al Qorni,HR.Muslim,no 2542)
2.Dihapuskan dari dosa besar. ( HR.Bukhari ,al Adabul Mufrad)
3.Diluaskan rezekinya. ( HR.Ahmad,no 13309)
4.Ridha Allah ada para ridha orang tua,murka Allah ada para Murka Orang tua. ( HR.Tirmidzi 1899)
5.Berbakti kepada orang tua,maka kelak anaknya berbakti pula.
6.Menyebabkan ia masuk surga. (HR.Muslim,no 2551).

Bersambung Insyaallah…..
Semoga bermanfaat.

بارك الله فيكم

Oleh : Abu Yusuf Dzulfadhli M,BA

Diambil Dari Group Telegram https://telegram.dog/joinchat/AAAAAERYVP0enb6DwNN4uA