Perempuan Yang Tidak Puasa Karena Menyusui, Bagaimana Mengganti Puasanya?

Pertanyaan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh

Ana mau bertanya, istri saya melahirkan tahun lalu, tepatnya 11 sya’ban 1439 H.  Kemudian karena menyusui, tidak ikut puasa ramadhan dan sampai sekarang belum diganti puasanya. Sebelumnya ada niat untuk mengganti puasanya dengan menqadha tapi diurungkan karena khawatir produksi ASI berkurang. Bagaimana cara mengganti puasanya? Apakah cukup diqadha ataukah harus membayar fidyah?

Jazakallahu khairan

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Jawaban

بسم الله

والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه. وبعد:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Wanita yang mengalami haidh dan nifas memang diharamkan untuk berpuasa dan berikutnya wajib mengqodho-nya (mengganti dengan puasa juga di luar Ramadhon).

Berdasarkan dalil hadits berikut :

«ﻋﻦ ﻣﻌﺎﺫﺓ اﻟﻌﺪﻭﻳﺔ ﺃﻧﻬﺎ ﻗﺎﻟﺖ ﻟﻌﺎﺋﺸﺔ: ﻣﺎ ﺑﺎﻝ اﻟﺤﺎﺋﺾ ﺗﻘﻀﻲ اﻟﺼﻮﻡ ﻭﻻ ﺗﻘﻀﻲ اﻟﺼﻼﺓ؟ ﻗﺎﻟﺖ ﻋﺎﺋﺸﺔ: ﻛﺎﻥ ﻳﺼﻴﺒﻨﺎ ﺫﻟﻚ ﻓﻨﺆﻣﺮ ﺑﻘﻀﺎء اﻟﺼﻮﻡ ﻭﻻ ﻧﺆﻣﺮ ﺑﻘﻀﺎء اﻟﺼﻼﺓ.» ﺭﻭاﻩ ﻣﺴﻠﻢ

Dari Mu’adzah Al-‘Adawiyyah bahwa ia pernah bertanya kepada ‘Aisyah رضي الله عنها:” Ada apa gerangan wanita yang haidh, ia mengganti puasa namun ia tidak mengganti sholat?”
Aisyah menjawab, “Dahulu haidh itu kami alami, lalu kami diperintahkan untuk mengganti puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengganti sholat.” (HR. Muslim)

Wanita yang nifas disamakan hukumnya dengan wanita yang haidh berdasarkan Ijma’ para ulama.

Untuk lamanya masa nifas, menurut pendapat yang kuat adalah 40 hari. Berdasarkan dalil hadits berikut:

ﻋﻦ ﺃﻡ ﺳﻠﻤﺔ، ﻗﺎﻟﺖ: «ﻛﺎﻧﺖ اﻟﻨﻔﺴﺎء ﺗﺠﻠﺲ ﻋﻠﻰ ﻋﻬﺪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ» رواه الترمذي وغيره

Dari Ummu Salamah رضي الله عنها ia berkata, “Dahulu para wanita nifas itu duduk (tidak ada aktivitas sholat dan puasa) di masa Nabi صلى الله عليه وسلم selama 40 hari.” (HR. Tirmidzi dll)

Adapun kasus yang ditanyakan, maka bila mulai nifas di tanggal 11 Sya’ban + 40 hari maksimal nifas, tentunya selesai nifas di tanggal 21 Ramadhon. Berarti di tanggal 22 Ramadhon semestinya sudah terhitung suci yang wajib mandi, lalu sholat dan puasa Ramadhon.

Namun jika setelah itu masih ada keluar darah, maka dilihat jenis darahnya.

1. Bisa jadi terhitung darah haidh yang bersambung dengan nifas bila warna darah merah kehitaman, berbau apek yang khas bagi wanita, dan keluar di waktu yang rutin-tertentu, maka tetap tidak boleh berpuasa dan sholat serta jima’. Sehingga bertambah waktu ganti puasa sejumlah sisa hari puasa dari tanggal 22 Ramadhon sampai akhir Romadhon. Bertambah sekitar 8 atau 9 hari. Dengan kata lain: jumlah hari ganti bila kondisi demikian adalah 1 bulan penuh.

2. Bisa jadi bukan haidh, namun ia darah istihadhoh/ penyakit yang wajib sholat dan puasa serta boleh jima’, bila darah tersebut tidak sama karakternya dengan darah haidh. Maka hari ganti puasa sebanyak 21 hari.

 

Catatan

1. Membayar fidyah dengan cara memberikan makan kepada orang fakir miskin ini untuk:

2. Orang tua renta baik laki-laki maupun wanita yang tidak mampu berpuasa dan masih berakal. (Menurut pendapat Jumhur Ulama berdasarkan QS. Al-Baqoroh:184)

3. Orang sakit yang menghalanginya untuk berpuasa dan tidak ada harapan sembuh. (Berdasarkan qiyas yaitu disamakan dengan point sebelumnya : orang tua renta yang tidak mampu berpuasa namun masih berakal)

4. Wanita hamil atau menyusui yang mengkhawatirkan diri maupun janin/ bayinya. (Menurut pendapat Ibnu Abbas dan Ibnu Umar رضي الله عنهما).

Jadi bayar fidyah bukan untuk wanita yang mengalami nifas walaupun ia menyusui selama nifasnya. Karena ia tidak berpuasa bukan karena menyusui namun karena nifas.

Berdasarkan dalil hadits berikut :

«ﻋﻦ ﻣﻌﺎﺫﺓ اﻟﻌﺪﻭﻳﺔ ﺃﻧﻬﺎ ﻗﺎﻟﺖ ﻟﻌﺎﺋﺸﺔ: ﻣﺎ ﺑﺎﻝ اﻟﺤﺎﺋﺾ ﺗﻘﻀﻲ اﻟﺼﻮﻡ ﻭﻻ ﺗﻘﻀﻲ اﻟﺼﻼﺓ؟ ﻗﺎﻟﺖ ﻋﺎﺋﺸﺔ: ﻛﺎﻥ ﻳﺼﻴﺒﻨﺎ ﺫﻟﻚ ﻓﻨﺆﻣﺮ ﺑﻘﻀﺎء اﻟﺼﻮﻡ ﻭﻻ ﻧﺆﻣﺮ ﺑﻘﻀﺎء اﻟﺼﻼﺓ.»ﺭﻭاﻩ ﻣﺴﻠﻢ

Dari Mu’adzah Al-‘Adawiyyah bahwa ia pernah bertanya kepada ‘Aisyah رضي الله عنها: ” Ada apa gerangan wanita yang haidh, ia mengganti puasa namun ia tidak mengganti sholat?”
Aisyah menjawab, “Dahulu haidh itu kami alami, lalu kami diperintahkan untuk mengganti puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengganti sholat.” (HR. Muslim)

Wanita yang nifas disamakan hukumnya dengan wanita yang haidh berdasarkan Ijma’ para ulama.

 

Kesimpulan

Tetap mengganti dengan puasa di luar Ramadhon.

Bila saat ini belum mampu mengganti puasa karena masih menyusui yang mengkhawatirkan berkurang asi untuk si bayi, maka silahkan menggantikannya setelah disapih. Namun upayakan dulu untuk mencoba berpuasa.

Semoga Allah memberi kemudahan bagi kita dalam semua urusan kita. Amin.

والله تعالى أعلم بالصواب.

10 Keutamaan-Keutamaan Dari Ibadah Puasa

Berikut 10 Keutamaan-Keutamaan Dari Ibadah Puasa:

1. Puasa Laksana Perisai

Puasa laksana perisai bagi sesorang yg berpuasa, karena dengan puasa dapat mengekang syahwat yang begejolak pada dirinya.

Rasulullah bersabda :

يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج

ومن لم يستطع فليه بالصوم فإنه له وجاء

 “Wahai para pemuda,siapa diantara kalian yang telah mampu,maka hendaknya menikah, karena menikah itu lebih mampu menahan pandangan, dan menjaga kemaluan, dan barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya ia berpuasa ,karena puasa itu merupakan perisai baginya.” (HR. Bukhari no. 5066 dan Muslim no. 1400)

Rasulullah juga bersabda :

الصيام جنة يستجن بها العبد من النار

“Puasa itu laksana perisai yang dengannya melindungi seorang hamba dari neraka.” (HR. Ahmad no. 14727)

 

2. Puasa Dapat Melindungi dan Menjauhkan dari Neraka

Rasulullah berdabda :

ما من عبد يصوم يوما في سبيل الله إلا باعد الله بذلك وجهه من النار سبعين خريفا

“Tidaklah seorang hamba ia berpusa satu hari dijalan Allah, melainkan Allah menjauhkan wajahnya dari neraka, sejauh perjalanam tujuh puluh musim.” (HR. Bukhari no 2840 dan Muslim no.1153)

 

Didalam kitab “Fathul Bari” disebutkan bahwa makna “Sab’in Kharifa” adalah tujuh puluh tahun.

 

3. Puasa adalah Amalan yang Bisa Memasukkan ke Surga

Dari Abu Umamah ia berkata :

Aku mendatangi Rasulullah , lalu aku berkata :

 فإنه لا مثل لهمُرْني بعمل يُدْخِلُنِي الجنةَ ،قال عليك بالصوم

“Perintahkan aku satu amalan yang yang bisa memasukkanku kedalam surga.

Rasulullah   pun seraya bersabda : Hendaknya engkau berpuasa, karena ia tidak ada tandingannya.” (HR.Ahmad no. 2128 &  Nasai’ no. 2221)

 

4. Allah Ta’la akan Memberikan Balasan Kepada Orang yang Berpuasa

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda : “Allah ta’la berfirman :

 

كل عمل ابن آدم له إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي به

“Setiap amalan bani adam itu untuknya kecuali puasa , karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku aku sendiri yang memberi balasannya” (HR.Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)

 

5. Bau Mulut Orang Berpuasa Itu di sisi Allah Lebih Wangi dari Minyak Kasturi

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,ia berkata: Rasulullah bersabda : “Allah ta’la berfirman :

لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك

“Bau Mulut orang berpuasa itu disisi Allah lebih wangi dari pada minyak kasturi.” (HR.Bukhari no.1904 dan Muslim no. 1151)

 

6. Orang yang Berpuasa Akan Mendapat Dua Kebahagiaan

Ketahuilah saudaraku, bahwa orang yang berpuasa ia akan mendapat dua kebahagiaan, kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dalam satu riwayat di sebutkan:

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Allah ta’la berfirman:

إذا أفطر فرح وإذا لقي ربه فرح بصومه

“Apabila ia berbuka (puasa, pent-) ia bergembira, dan apabila ia berjumpa dengan Rabbnya ia bergembira dengan ibadah puasanya.” (HR.Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)

 

7. Dosa Orang Berpuasa Diampuni yang Telah Lalu

Rasulullah   besabda :

من صام رمضان إيمانا و احتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barang siapa yg berpuasa dengan keimanan dan mengharap pahala,maka dosa-dosanya akan diampuni yang telah lalu.” (HR. Muslim no. 38)

Dosa yang diampuni adalah dosa kecil, bukan dosa besar sebagaimana dalam riwayat dibawah ini,

Rasulullah bersabda:

الصلوات الخمس الجمعة إلى الجمعة رمضان إلى رمضان مكفرات لما بينهن إذاجتنب الكبائر

“Shalat lima waktu, dari jum’at ke jum’at berikutnya,dari ramadhan ke ramadhan berikutnya,menghapus dosa -dosa yg terjadi di antaranya,selama  dosa-dosa besar di hindari.” (HR. Muslim no. 233)

 

8. Orang yang Berpuasa Akan Mendapat Syafaat pada Hari Kiamat

Rasulullah bersabda:

الصيام والقرآن يشفعان للعبد يوم القيامة يقول الصيام أي رب منعته الطعام و الشهوات بالنهار فشفعني فيه ويقول القرآن أي رب منعته النوم بالليل فشفعني فيه  قال فيشفعان

“Puasa dan Al-Qur’an kelak pada hari kiamat memberikan syafaat untuk seorang hamba, puasa berkata: Duhai Rabb, aku telah menahan orang ini dari makanan dan syahwat pada siang hari, maka izinkanlah aku untuk memberikan syafaat kepadanya. Al- Qur’an berkata: Duhai Rabb, aku telah menahan orang ini dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku untuk memberikan syafaat kepadanya. Beliau melanjutkan sabdanya: “maka keduanya (puasa dan Al Qur’an) pun memberikan syafaat untuk keduanya.” (HR. Ahmad no. 6337)

 

9. Orang yang Berpuasa Akan Masuk Pintu di Surga yang Bernama Ar-Rayyan

Rasulullah bersabda :

إن في الجنة بابا يقال له الريان  يدخل منه الصائمون يوم القيامة لا يدخل منه أحد غيرهم

“Sesungguhnya di surga ada pintu yang bernama ar-Rayyan, yang pada hari kiamat tidak ada yang boleh masuk kecuali mereka (Orang-orang yang berpuasa).” (HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152)

 

10. Berpuasa Bisa Menjadikan Seorang Insan Bertakwa

Allah ta’la berfirman:

يَا آيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلى الذِيْنَ مٍنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَُ كُمْ تَتَّقُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (Qs.Al – Baqarah :183)

 

Semoga bermanfaat

 بارك الله فيكم

Marah Ketika Puasa Atau Minum Secara Tidak Sengaja, Apakah Ibadah Puasanya Tetap Dilanjutkan?

Pertanyaan:

Assalamu’laikum Ustadz.
Afwan Ustadz saya mau bertanya, hari ini saya puasa 10 muharram tapi saya tadi marah-marah kepada seorang murid karena kelancangannya mengucapkan kata yang kasar di depan saya. Dan saya juga tadi memukulnya. Apakah puasa saya masih sah Ustadz?

 

Jawaban:

BerIstighfarlah dan berharaplah dan berdo’alah kepada Allah agar puasa 10 muharram anda diterima .

ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم

“Wahai Rabb kami, terimalah amal ibadah kami, sesungguhnya engkau Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”(Qs. Al Baqarah : 127)

Allahu ‘alam

Baca Juga: Bolehkan Hanya Puasa Di 10 Muharram (Asyura) Saja?

Pertanyaaan:

Assalamualaikum ustadz, ana mau nanya nih, ana kan puasa trus tadi benar-benar lupa pas sampe rumah kakak ana, karena liat ada anggur, ana makan anggur 2 buah
apakah membatalkan puasa?

ana udh istighfar dan benar2 lupa, jadi ana lanjut atau tidak puasa nya ? mohon penjelasannya.

Jawaban:

Apa yang antum alami adalah tidak membatalkan puasa, silahkan teruskan puasanya.

Nabi ﷺ Bersabda:

إذا نسي فأكل وشرب فليتم صومه فإنما أطعمه الله وسقاه

“Jika seorang lupa lalu di makan dan minum, maka hendaklah ia meneruskan puasanya, karena hal itu berarti Allah memmberinya makan dan minum.” (HR.Bukhari no.1933)

Dalam hadist ini menunjukkan bahwa seseorang yang sedang berpuasa lalu dia makan atau minum karena lupa, maka hal ini tidak membatalakan puasanya, dan hendaknya dia teruskan puasanya.

Allahu A’lam.

Di Jawab Oleh:

Abu Yusuf Dzulfadhli Munawar

 

Makna & Penjelasan Hukum – Hukum Seputar Puasa

Kata puasa berasal dari dua sumber:

1. Secara bahasa, maknanya adalah menahan.

2. Secara istilah syariat,

Maknanya adalah menahan diri dari sesuatu yang bisa membatalkan puasa, dengan niat yang khusus sesuai jenis puasa yang dia kerjakan didalam seluruh waktu siang dari seorang muslim yang berakal, suci dari haidh dan nifas.

Maka ibadah puasa seorang yang bukan muslim, yang hilang akal atau kesadaranya dan wanita yang sedang haidh atau nifas tidak diterima. Dikarenakan orang yang hilang akal dia tidak mampu berniat sedangkan niat adalah syarat dan sebagian ulama mengatakan sebagai rukun dari semua ibadah.

Syarat wajib puasa, ada 3 atau 4:

1. Islam
2. Baligh
3. Berakal
4. Mampu

Wajib – wajib puasa, ada 4 macam:

1. Niat dengan hati, jika puasanya puasa wajib seperti ramadhan atau puasa nadzar, maka harus berniat di malam hari sebelum puasa dan wajib menentukan niat puasa yang akan dikerjakan untuk puasa yang wajib, semisal ramadhan. Lalu menyempurnakan niatnya dengan mengatakan “Nawaitu sauma ghadin …. dan seterusnya”.
Disini penulis rahimahullah mengikuti pendapat jumhur ulama yang mengatakan melafadzkan niat adalah mustahab yaitu dianjurkan. Dari keempat madzhab megatakan demikian kecuali malikiyah yang berpendapat bahwa mengucapkan niat itu mustahab hanya bagi orang berpenyakit was – was. Adapun sebagian ulama hanabilah mengatakan ini adalah bid’ah semisal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dan banyak lainya. Ini adalah yang lebih benar, dikarenakan tidak ada contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat rodhiyallahu anhum. Pendapat jumhur yaitu mayoritas ulama tidak mutlak benar atau yang rojih/kuat. Ada penjelasan dari Ibnu Abidin rahimahullah seorang ulama bermadzhab hanafi salah satu madzhab yang menganggapnya mustahab, beliau mengatakan bahwa hal ini maksudnya hukumnya bukanlah sunnah (apalagi wajib) ataupun makruh (hanya mustahab). Dikarenakan barang siapa memnuat sebuah sunnah baru tanpa dalil maka dia telah berbuat bid’ah. Barang kali yang dimaksud para ulama lain adalah seperti beliau wallahu ta’ala a’lam.(pent)

2. Menahan diri dari makan dan minum, walau yang dimakan dan diminum hanya sedikit secara sengaja. Kemudian jika makan dalam keadaan lupa atau belum tahu hukumnya karena baru masuk islam atau tumbuh dewasa jauh dari ahli ilmu maka puasanya tidak batal, tapi jika tidak maka batal puasanya.
3. Berhubungan badan secara sengaja, adapun jika lupa maka tidak batal sebagaimana makan.
4. Muntah dengan sengaja, adapun jika terpaksa muntah tanpa disengaja maka tidak membatalkan puasanya.

Pembatal-pembatal puasa, Ada 10 macam:

1. Segala sesuatu baik makanan, minuman maupun yang lainya yang masuk sampai ke perut dari jalur yang terbuka semisal mulut ,hidung, telinga dan sejenisnya secara sengaja.
2. Dari jalur yang tidak terbuka semisal sampainya dzat (obat) dari jalur luka di bagian kepala sampai ke otak. Maksudnya adalah menahan diri dari melakukan hal-hal yang bisa membuat sesuatu yang bisa dilihat oleh mata masuk sampai kekerongkongan.

Semisal obat tetes di mata, maka obat ini secara kedokteran akan bisa mencapai rongga hidung, lalu obat itu akan dialirkan oleh sel – sel silia menuju ke tenggorokan sehingga terasa pahit dan ini tidak diperbolehkan ketika berpuasa. (keterangan dr. Sandro Willis, Ma’had Lukman Hakim Medan). Maka orang yang berpuasa wajib menghindarinya hingga sampai kekeronggkongan hingga membatalkan puasanya.(Pent)

Syaikh Ibn Baz rahimahullah juga berkata: “Yang sahih, obat tetes mata tidak membatalkan puasa. Sekalipun ini menjadi perdebatan di kalangan ulama. Sebagian ulama berpendapat, jika rasanya sampai ke tenggorokan maka itu membatalkan. Namun yang sahih, hal itu tidak membatalkan secara mutlak. Karena mata tidak tembus ke tenggorokan. Namun jika yang menggunakannya merasa ada rasa di tenggorokan kemudian meng-qadha puasanya, untuk berjaga-jaga dan keluar dari perselisihan, maka hal itu tidak mengapa. Tidak meng-qadha puasanya pun tidak mengapa. Karena yang sahih adalah obat tetes tidak membatalkan puasa, baik itu tetes di mata maupun di hidung. Demikian”. Dikutip dari “Majmu’ Fatawa Ibn Baz” (15/263)

3. Suntikan atau segala macam injeksi obat kedalam tubuh kepada pasien melalui bagian belakang maupun bagian depan, dubur maupun qubul.
4. Muntah dengan sengaja sebagiamana sebelumnya dijelaskan.
5. Berhubungan badan di kemaluan secara sengaja, adapun lupa maka tidak batal sebagaimana dijelaskan sebelumnya.
6. Mengeluarkan mani disebabkan bercumbu tanpa jima’ secara haram seperti onani dengan tanganya sendiri, maupun secara tidak haram dengan tangan istri atau budak wanitanya. Dikecualikan bercumbu sampai keluar mani dalam mimpi basah, maka hal ini tentu tidak membatalkan puasa.
7. Haidh
8. Nifas
9. Gila
10. Murtad

Maka kapan saja terjadi salah satu dari hal-hal yang telah dijelaskan ditengah puasanya, maka batal puasanya.
Sebagian orang mungkin bertanya bagaimana jika siang dia gila atau hilang akal dengan berbagai sebab lalu sorenya sebelum berbuka dia sadar kembali? Maka berdasarkan keterangan penulis rahimahullah puasanya batal wallahu a’lam.

Teks Arab

محمد بن قاسم بن محمد بن محمد، أبو عبد الله، شمس الدين الغزي، ويعرف بابن قاسم وبابن الغرابيلي (المتوفى: 918هـ)
كتاب بيان أحكام الصيام
وهو والصَوم مصدران، معناهما لغةً الإمساك، وشرعًا إمساك عن مفطر بنية مخصوصة، جميعَ نهار قابل للصوم، من مسلمٍ عاقلٍ طاهر من حيض ونفاس
شروط وجوب الصيام
(وشرائط وجوب الصيام ثلاثة أشياء): وفي بعض النسخ «أربعة أشياء»: (الإسلام، والبلوغ، والعقل؛ والقدرة على الصوم). وهذا هو الساقط على نسخة الثلاثة؛ فلا يجب الصوم على المتصف بأضداد ذلك.
فرائض الصوم
(وفرائض الصوم أربعة أشياء): أحدها (النية) بالقلب؛ فإن كان الصوم فرضًا كرمضانَ أو نذرا فلا بد من إيقاع النية ليلا، ويجب التعيين في صوم الفرض كرمضان؛ وأكمل نية صومه أن يقول الشخص: «نَوَيتُ صَوْمَ غَدٍ عَن أدَاء فَرْضِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنةِ لِلّهِ تعالى.
(و) الثاني (الإمساك عن الأكل والشرب) وإن قل المأكول والمشروب عند التعمد؛ فإن أكل ناسيا أو جاهلا لم يفطر إن كان قريب عهد بالإسلام أو نشأ بعيدا عن العلماء، وإلا أفطر. (و) الثالث (الجماع) عامدا؛ وأما الجماع ناسيا فكالأكل ناسيا. (و) الرابع (تعمد التقيء)؛ فلو غلبه القيء لم يبطل صومُه.
ما يفطر به الصائم
(والذي يفطر به الصائم عشرة أشياء): أحدها وثانيها (ما وصل عمدا إلى الجوف) المنفتح (أو) غير المنفتح كالوصول من مأمومة إلى (الرأس)؛ والمراد إمساك الصائم عن وصول عين إلى ما يسمى جوفا. (و) الثالث (الحقنة في أحد السبيلين)، وهي دواء يحقن به المريض في قبل أو دبر، المعبر عنهما في المتن بالسبيلين. (و) الرابع (القيء عمدا)؛ فإن لم يتعمد لم يبطل صومه كما سبق. (و) الخامس (الوطء عمدا في الفرج)؛ فلا يفطر الصائم بالجماع ناسيا كما سبق. (و) السادس (الإنزال) وهو خروج المني (عن مباشرة) بلا جماع محرما كإخراجه بيده أو غيرَ محرم كإخراجه بيد زوجته أو جاريته. واحترز بمباشرة عن خروج المني باحتلام، فلا إفطار به جزما. (و) السابع إلى آخر العشرة (الحيض، والنفاس، والجنون، والردة). فمتى طرأ شيء منها في أثناء الصوم أبطله.

Diambil dari kitab: “Fathul qorib syarah matan Abi Syuja'”
Karya: Imam Syamsuddin Alghaziy. (w. 918 H) seorang ulama bermadzhab syafi’i kelahiran palestina.

Alih Bahasa: Bagus Wijanarko, ST.
Editor: Ust. Indra abu Mu’adz Hafidzohumallahu ta’ala
2 orang tholibul ‘ilm Jami’ah Imam KJJLIPIA.

Faidah Fatwa: Tidak Ada Amalan Khusus Di Bulan Rajab

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Al-Allamah Prof DR Shalih Bin Fauzan -Hafizahullah-

Pertanyaan:

هل صحيح أن شهر رجب يُفرَدُ بعبادةٍ معينة أو بخصوصية‏؟‏ أرجو إفادتنا؛ حيث إن هذا الأمر مُلتبسٌ علينا، وهل يُفرَدُ أيضًا زيارة للمسجد النبوي فيه‏؟

“Apakah benar, bahwa bulan Rajab dikhususkan dengan ibadah tertentu? Mohon penjelasannya, karena perkara ini menjadi rancu bagi kami. Dan apakah dikhususkan pula berziarah ke masjid Nabawi pada bulan Rajab?“.

Jawaban

Tentang Ada Tidaknya Amalan Khusus Di Bulan Rajab

شهر رجب كغيره من الشهور، لا يُخصَّص بعبادة دون غيره من الشهور؛ لأنه لم يثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم تخصيصه لا بصلاة ولا صيام ولا بعمرة ولا بذبيحة ولا غير ذلك، وإنما كانت هذه الأمور تُفعل في الجاهلية فأبطلها الإسلام؛ فشهر رجب كغيره من الشهور، لم يثبت فيه عن النبي صلى الله عليه وسلم تخصيصه بشيء من العبادات؛ فمن أحدث فيه عبادة من العبادات وخصه بها؛ فإنه يكون مبتدعًا؛ لأنه أحدث في الدين ما ليس منه، والعبادة توقيفية؛ لا يقدم على شيء منها؛ إلا إذا كان له دليل من الكتاب والسنة، ولم يرد في شهر رجب بخصوصيته دليل يُعتمد عليه، وكل ما ورد فيه لم يثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم، بل كان الصحابة ينهون عن ذلك ويُحذِّرون من صيام شيء من رجب خاصة‏.‏ أما الإنسان الذي له صلاة مستمر عليها، وله صيام مستمر عليه؛ فهذا لا مانع من استمراره في رجب كغيره، ويدخل تبعًا‏.‏ 

“Bulan Rajab, kedudukannya sama seperti bulan-bulan yang lainnya, tidak dikhususkan dengan ibadah tertentu.

Sebab tidak terdapat dalil dari Nabi ﷺ bahwa beliau mengkhususkannya dengan shalat, puasa, umrah, menyembelih dan ibadah yang lainnya.

Perkara mengkhususkan ibadah hanya dilakukan pada masa jahiliyah, kemudian islam datang membatalkannya.

Sehingga bulan Rajab sebagaimana bulan yang lainnya, tidak ada keterangan yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengkhususkannya dengan ibadah tertentu.

Hati-Hati Terjerumus Dalam perbuatan Bid’ah

Dan barangsiapa mengada-ada dibulan Rajab dengan suatu ibadah dan mengkhususkannya di bulan Rajab maka dia pengusung bid’ah.

Hal itu karena dia mengada-ada didalam agama, yang sama sekali bukan bagian dari agama itu sendiri, sementara ibadah, sifatnya “tauqifiyah” (ditetapkan berdasarkan dalil).

Sehingga tidak boleh mendahulukan sesuatu darinya, kecuali berlandaskan dalil dari Al-Qur’an & As Sunnah. Dan tidak ada dalil yang bisa dijadikan patokan terkait mengkhususkan bulan Rajab.

Semua riwayat tentang itu tidaklah shahih dari Nabi ﷺ, Bahkan para sahabat -radhiyallahu anhum- telah melarang dari hal tersebut sekaligus memperingatkan agar tidak mengkhususkan puasa pada bulan Rajab.

Adapun bagi orang yang memang memiliki kebiasaan shalat dan puasa, maka tidak mengapa melanjutkan kebiasaannya tersebut dibulan Rajab, sebagaimana yang dilakukannya dibulan lain“.

Sumber
Al Muntaqo Min Fataawa Asy Syeikh Sholeh Al Fauzan : 1/222-223 [Soal no 124].

Bolehkan Hanya Puasa Di 10 Muharram (Asyura) Saja?

Pertanyaan :

Apakah boleh puasa ‘Asyuro saja tanpa puasa sebelumnya atau sesudahnya, karena sesungguhnya saya pernah membaca di salah satu Majalah Fatwa didalamnya membolehkan puasa ‘Asyuro saja, karena sesungguhnya hal itu makruh, Dimana orang-orang yahudi sekarang, sungguh mereka tidak puasa ‘Asyuro (10 muharram) lagi?

Jawaban :

Mengenai puasa ‘asyuro telah disebutkan di dalam hadist- hadist Rasulullah ﷺ,

Dari Abu Qatadah bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Shaum hari ‘Asyura’ saya berharap dari Allah dapat menghapuskan dosa-dosa pada tahun sebelumnya.” (HR.Tirmidzi 752; Abu Daud 2425,2426; Ibnu Majah 1738).

Dalam riwayat lain, dari Abdullah bin Abbas radliallahu ‘anhuma berkata :

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Saat Rasulullah ﷺ berpuasa pada hari ‘Asyura`dan juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa; Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang sangat diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada tahun depan insya Allah, kita akan berpuasa pada hari ke sembilan (Muharram).” Tahun depan itu pun tak kunjung tiba, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat.(HR.Muslim,1134)

Berdasarkan pemaparan hadist diatas di anjurkan untuk puasa ‘Asyura pada tanggal 10 muharram dan puasa tasu’ah pada tgl 9 muharram, namun bagaimana kalau seorang ingin puasa ‘Asyuro saja, simak penjelasannya dibawah ini.

Pertanyaan di atas pernah di ajukan kepada Syaikh Muhammad shalih al Utsaimin

Pertanyaan :

هل يجوز صيام يوم عاشوراء وحده من غير أن يصام يوم قبله أو بعده، لأنني قرأت في إحدى المجلات فتوى مفادها أنه يجوز ذلك لأن الكراهة قد زالت أن حيث اليهود لا يصومونه الاۤن؟

Apakah boleh puasa ‘Asyuro saja tanpa puasa sebelumnya atau sesudahnya, karena sesungguhnya saya pernah membaca di salah satu Majalah Fatwa didalamnya membolehkan puasa ‘Asyuro saja, karena sesungguhnya dimana orang-orang yahudi sekarang mereka tidak puasa ‘Asyuro (10 muharram)?

Jawaban :

كراهة إفراد يوم عاشوراء بالصوم ليست أمراً متفقاً عليه بين أهل العلم، فإن منهم من يرى عدم كراهة إفراده، ولكن الأفضل أن يصام يوم قبله أو يوم بعده، والتاسع أفضل من الحادي عشر، أي من الأفضل أن يصوم يوماً قبله لقول النبي صلى الله عليه وسلم: “لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع”، يعني مع العاشر.، وقد ذكر بعض أهل العلم أن صيام عاشوراء له ثلاث حالات: الحال الأولى: أن يصوم يوماً قبله أو يوماً بعده. الحال الثانية: أن يفرده بالصوم. الحال الثالثة: أن يصوم يوماً قبله ويوماً بعده. وذكروا أن الأكمل أن يصوم يوماً قبله ويوماً بعده، ثم أن يصوم التاسع والعاشر، ثم أن يصوم العاشر والحادي عشر، ثم أن يفرده بالصوم. والذي يظهر أن إفراده بالصوم ليس بمكروه، لكن الأفضل أن يضم إليه يوماً قبله أو يوماً بعده.

Makruh Hukumnya hanya puasa ‘Asyuro (10 muharram) saja, akan tetapi perbuatan itu bukanlah perkara yg disepakati diantara para ulama, karena sebagian mereka memandang, perbuatan tersebut (puasa 10 muharram) saja tidak makruh, akan tetapi yang lebih utama adalah puasa sebelumnya atau sesudahnya, puasa tasu’ah (9 muharram) lebih afdhal dari 11 muharram, dan yg paling utama adalah puasa satu hari sebelumnya,sebagaimana sabda Nabi ﷺ :

لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع

“Seandainya tahun depan aku masih hidup, niscaya saya benar-benar akan berpuasa pada hari ke sembilan (Muharram).” ( HR.Muslim,1134)

(Puasa tasu’ah) yaitu dibarengi setelah itu puasa ‘asyuro (10 Muharram)

Dan sesungguhnya disebutkan oleh sebagian para ulama bahwa puasa ‘asyuro ada 3 Keadaan (kondisi) :

  1. Kondisi pertama : Puasa sebelumya atau sesudahnya.
  2. Kondisi kedua : Puasa A’syuro saja (10 muharram).
  3. Kondisi ketiga : Puasa sebelumya dan sesudahnya.

Mereka menyebutkan bahwasanya yang paling sempurna adalah (puasa ‘Asyuro) di kerjakan puasa sebelumnya dan sesudahnya, kemudian puasa tasu’ah (9 muharram) dan puasa ‘Asyuro (10 muharram), kemudian puasa (10 muharram) dan puasa ‘Asyuro ( 11 muharram). Kemudian hanya puasa A’syuro saja (10 muharram ).

Dan yang tampak bahwa puasa ‘Asyuro saja (10 muharram ) hukumnya tidaklah makruh, akan tetapi yang utama diiringi puasa sebelumnya atau sesudahnya. (Majmu’ Fatawa wa Rasail, oleh Syaikh Muhammad Shalih al Utsaimin, Kitab shiyam) [ http://iswy.co/e3ldj]

Demikian pembahasan diatas semoga Allah ta’la memudahkan kita mengamalkannya.

Allahu ‘alam.

Dijawab oleh
Abu Yusuf Dzulfadhli Munawar

Bolehkah Puasa Sunnah Asyuro’ Yang Jatuh Pada Hari Sabtu?

Pertanyaan :

Assalamualaikum min, boleh tidak kalau besok puasa asyuro’ diikuti dengan besoknya ? soalnya besok kan sabtu. kemaren pernah baca kalau sabtu tidak boleh berpuasa. benarkah begitu?

syukron min.

Jawaban :

Nabi ﷺ bersabda:

َ لَا تَصُومُوا يَوْمَ السَّبْتِ إِلَّا فِي مَا افْتُرِضَ عَلَيْكُمْ

“Janganlah kalian berpuasa pada hari Sabtu kecuali yang diwajibkan atas kalian.” (HR.Abu Daud 2421, Tirmizdi 744, Ahmad 17026)

Pertanyaan diatas pernah ditanyakan kepada Guru kami Syaikh Walid Saifun Nashr (Murid Syaikh al Albani rahimahullah).

Pertanyaan :

ما قولكم في صيام يوم العاشر من محرم يقع في السبت. أفيدوني يا شيخنا بالقول الراجح في هذه المسألة

Apa pendapat anda mengenai puasa asyuro’, dimana (puasa asyuro’ bertepatan, pent) dilarang puasa pada hari sabtu? Wahai syaikh, mohon jelaskan kepada saya Mana pendapat yang rajih dalam masalah ini?

Jawaban :

اذا صمت اليوم الجمعة وغدا السبت
التاسع والعاشر
تكون قد خرجت من النهي

Apabila anda puasa pada hari jum’at dan sabtu besok puasa tasu’ah dan asyuro’, maka hal itu keluar dari larangan (hadist, pent). (Dari Group WA Nashaih Syaikh Walid Saifun Nashr hafizhahullah).

Dari jawaban syaikh di atas bahwa agar terhindar dari larangan puasa pada hari sabtu, maka hendaknya diiringi puasa sebelumnya yaitu puasa tasu’ah.

Allahu ‘alam.

Dijawab oleh
Abu Yusuf Dzulfadhli Munawar