Buah Manis Bertauhid

Buah Manis Bertauhid

Artikel ini di tulis dalam rangka Menjaga Akidah Kita Di Masa Pandemi Covid-19 atau disebut juga Corona & merupakan sambungan dari Apa Yang Kau Jadikan Pondasi?.

Pada kajian yang lalu kita telah membahas terkait dengan hakikat tauhid. Kemudian kita akan membahas terkait dengan buah dari tauhid itu sendiri. Buah ini tidak akan kita rasakan, kecuali kita telah menghujamkan dalam hati kita seberapa penting masalah tauhid tersebut. Karena, seorang akan memfokuskan dan menaruh perhatiannya kepada sesuatu apabila dia merasa ini merupakan suatu hal yang penting. Apalagi perkara tersebut adalah perkara yang paling penting dalam kehidupan seorang manusia. Jika ini telah dia lakukan, tentu perhatiannya dan seluruh pikirannya akan fokus dengan masalah ini. Sehingga dia bisa merasakan hasil daripada apa yang sedang dia perhatikan. Oleh karena itu, sebelum kita membahas terkait dengan buah dari tauhid, tentunya kita harus memahami, mengetahui, dan meyakini serta menghujamkan hal-hal ini dalam hati kita tentang seberapa pentingnya masalah tauhid.

Sebagaimana yang kita bahas sebelumnya, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah atau untuk mentauhidkan Allah.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Kalau kita lihat ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits-hadits Rasulullah ﷺ yang terkait dengan masalah tauhid, kita bisa simpulkan beberapa hal penting tentang masalah tauhid. Di antaranya yaitu:

  1. Allah menciptakan manusia untuk mentauhidkan-Nya

Hal ini sudah kita bahas

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala pernah mengambil perjanjian dari anak-anak adam tentang masalah tauhid ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Rabbmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?Mereka menjawab, ‘Betul, kami bersaksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini’,”

Saya dan anda termasuk yang pernah ditanya, sebagaimana firman Allah diatas. Coba perhatikan, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengambil perjanjian dari kita. Allah tidak mengambil perjanjian masalah usaha kita, tidak mengambil masalah amanah yang harus kita lakukan, tidak mengambil perjanjian dari usaha yang akan mungkin kita lakukan, tapi ada yang jauh lebih penting yaitu Tauhidullah (mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala). Ini perkara yang terpenting di atas semua perkara yang terpenting, karena tidak ada perkara yang lebih penting dibandingkan mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

  1. Misi utama seluruh Rasul adalah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tidak ada seorang Rasul pun kecuali misi utamanya adalah menegakkan kalimat “laa ilaha illallah” seluruhnya tanpa terkecuali.

Di kajian lalu telah kita bahas, ada orang-orang yang mengatakan bahwasanya Nabi mereka telah menyuruh kaumnya untuk menyembahnya. Tapi ternyata ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam ayat tentang Nabi Isa, Allah bertanya kepada Nabi Isa,

Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?’ Nabi Isa menjawab, ‘Maha Suci Engkau

مَا قُلْتُ لَهُمْ اِلَّا مَآ اَمَرْتَنِيْ بِهٖٓ

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (QS. Al-Maidah : 116-117)

Apa yang diperintahkan Allah kepada Nabi Isa? Tauhidullah (mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala), tidak ada yang lain. Kalau ada yang menyembah Nabi Isa, menyembah ibunya kemudian dia katakan ini adalah agama yang dibawa oleh Nabi Isa maka dia telah berbohong. Ketahuilah bahwasanya Allah telah mengatakan,

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا فَٱعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (QS. Al-Anbiya : 125)

 

  1. Untuk menegakkan tauhid, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan kitab.

Atau yang kita sebut dengan kitab-kitab suci. Kitab-kitab suci yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari langit seperti Zabur, Taurat, Injil, dan Al-Qur’an mempunyai misi yang sama seperti misi diutusnya para Rasul, yaitu mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di kajian lalu telah kita bahas bahwasanya Al-Qur’an itu semua isinya adalah tauhid. Terkait dengan nama, sifat, dan perbuatan-perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terkait dengan bagaimana para wali Allah, para Nabi Allah mengajak kaum manusia untuk mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terkait dengan bagaimana  perlakuan Allah terhadap orang-orang yang mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terkait dengan bagaimana ganjaran yang Allah berikan kepada orang yang mentauhidkan Allah dan ganjaran yang menanti dia di hari akhirat. Terkait juga dengan orang yang menyekutukan Allah, hukuman dan bala serta bencana yang Allah turunkan kepada orang-orang yang menyekutukan Allah. Juga menceritakan tentang azab yang luar biasa yang sedang menunggu dia nanti di hari kiamat yang lebih parah dan yang lebih dahsyat daripada azab yang Allah turunkan kepada mereka di dunia.

Oleh karena itu, Allah menurunkan Al-Qur’an, Injil, Taurat, Zabur. Itu seluruhnya untuk menjalankan, menegakkan misi kalimat ‘laa ilaha illallah’. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Hud ayat 1 dan 2,

الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ

“Alif Lam Ra. (Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan sempurna serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha bijakssana lagi Maha Teliti, agar kalian tidak menyembah, kecuali Allah.”

Ayat pertama, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang Al-Qur’an diturunkan untuk menjelaskan banyak permasalahan dan ayat-ayatnya adalah ayat yang muhkam, isinya diberi rincian oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian Allah menyebutkan ayat berikutnya, jangan kalian menyembah kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah misi Al-Qur’an yang inti, dan ini juga misi seluruh kitab-kitab yang Allah turunkan dari langit. Misi utama adalah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

  1. Para Nabi dan Rasul memiliki misi mentauhidkan Allah.

Mereka punya misi, demikian juga para shahabat yang merupakan penerus misinya para Nabi dan Rasul. Shahabat meneruskan misinya Rasulullah ﷺ. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan shahabat Rasulullah itu sebagai penerus misinya Rasulullah, karena Allah menyebutkan tentang utusan-utusan Allah,

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah, ‘Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Allah berdasarkan hujjah yang nyata. Maha suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik’.” (QS. Yusuf : 108)

Jadi, para Rasul dan Rasulullah ﷺ dan yang mengikuti jejak Rasulullah ﷺ, misi utama dakwah mereka adalah tauhid. Misi utama mereka adalah menegakkan kalimat ‘laa ilaha illallah’, tidak ada yang lainnya. Makanya, dakwah salafush shalih yang telah diemban dari Rasul yang terdahulu sampai Rasul yang terakhir dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka, dakwah utama mereka adalah at-tauhid, tidak ada yang lain, itu yang pertama.

Makanya, ketika salah seorang shahabat Rasulullah ﷺ yang bernama Mu’adz bin Jabal –Radhiyallahu ‘anhu-. Beliau diutus Rasulullah ﷺ ke Yaman sebagai da’i yang mengajak orang ke jalan Allah. Sebelum diutus, Rasulullah ﷺ memberinya wasiat,

Wahai Mu’adz, kamu itu akan mendatangi kaum ahlul kitab…”

Artinya ini kaum yang punya ilmu sebagaimana yang kita ketahui bahwa ahlul kitab adalah Yahudi dan Nasrani. Beda halnya dengan orang-orang Quraisy karena mereka tidak punya kitab pedoman. Tapi di  negeri Yaman sudah banyak orang Yahudi dan Nasrani di sana. Makanya Rasulullah sebutkan nasehat pertama supaya Mu’adz bin Jabal mengerti bagaimana kondisi orang-orang yang di sana.

“Hendaklah yang pertama sekali yang kamu sampaikan kepada mereka ialah syahadatain. Jika mereka telah mentaatimu dalam hal itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam.”

Karena, percuma dia sholat yang 5 waktu sementara dia belum syahadat. Sholatnya enggak berguna sama sekali. Karena, salah satu syarat sah sholatnya seseorang adalah dia harus masuk Islam dulu. Jika dia tidak masuk Islam maka apapun kebaikan dia tidak akan dihitung dalam Islam karena dia belum terdaftar sebagai seorang muslim. Jadi kalau ada seorang yang sudah yakin dengan Allah tapi dia belum pernah mengucapkan syahadat sebagai ikrar dia masuk Islam maka para ulama menyatakan bahwa orang ini belum masuk Islam.

Oleh karena itu, penting sekali dakwah kita kepada masyarakat yang pertama kita dudukkan adalah tauhid mereka. Karena kalau tauhid mereka sudah duduk, maka amalan-amalan kebaikan yang mereka lakukan itu semua memiliki nilai di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

  1. Tauhid merupakan penyebab terbaginya manusia menjadi 2 golongan, yaitu Mukmin dan Kafir.

Seorang mukmin, dia harus loyal kepada orang-orang mukmin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara…”(QS. Al-Hujaraat :10)

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain;…” (QS. At-Taubah : 71)

Orang kafir juga demikian sebagaimana yang Allah firmankan dalam surat Al-Anfal ayat 73,

“Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka adalah pelindung bagi sebagian yang lain.”

Makanya ketika datang dakwah tauhid, mereka yang menyambut dakwah ini termasuk orang mukmin dan mereka yang menentang dakwah ini termasuk orang kafir. Kita sebagai seorang mukmin hanya loyal kepada mukmin yang lain. Jika kita mencari kemuliaan maka jangan cari kemuliaan itu dari orang kafir karena Allah telah mengatakan,

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Padahal kekuatan itu hanyalah milik Allah, RasulNya dan orang-orang Mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.” (QS. Al-Munafiqun : 8)

Oleh karenanya, loyalitas kita hanya untuk orang-orang mukmin semata, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Mujadilah ayat 22,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

“Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu adalah bapak mereka, anak mereka, saudara mereka, atau keluarga mereka…” (QS. Al-Mujadilah : 22)

Maka, jika seseorang sudah beriman kepada Allah dan RasulNya sementara keluarga terdekatnya memusuhi Allah dan RasulNya maka dia haram mencintai mereka.

أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ

“Mereka itulah orang-orang yang Allah tanamkan keimanan dalam hati mereka…” (QS. Al-Mujadilah : 22)

Jadi, tidak boleh kita mencintai orang kafir. Apakah tidak mencintai mereka berarti harus memusuhi mereka? Tidak begitu ! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8,

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian dalam urusan agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman kalian. Sesungguhnya Allah mecintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah : 8)

Ketika kita tidak mencintai orang-orang kafir bukan berarti kita memusuhi mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman terkait orang tua yang kafir dalam Al-Qur’an,

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا

“Dan jika mereka berdua memaksamu untuk mempersekutukanKu dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentangnya, maka janganlah engkau menaati keduanya,…” (QS. Lukman : 15)

Padahal kita wajib untuk taat kepada orang tua. Akan tetapi, karena diperintahkan untuk menyekutukan Allah maka jangan ditaati. Dan lanjutan dari ayat diatas,

وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“…dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik…” (QS. Lukman : 15)

Jadi, surat Al-Mujadilah ayat 22 tadi menyatakan bahwa kita dilarang mencintai orang kafir karena mereka telah menyekutukan Allah. Tidak ada perbuatan zhalim melebihi perbuatan syirik. Seorang manusia yang membunuh 1000 orang manusia lebih kecil dosanya dibandingkan seorang yang mempersekutuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanya nasihat pertama Luqman kepada anaknya adalah sebagaimana yang Allah firmankan dalam surat Luqman ayat 13,

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ

“…‘Wahai anakku! Jangalah engkau mempersekutukan Allah,…’

Mengapa?

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“…sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar’.” (QS. Luqman : 13)

Tidak ada dosa yang lebih besar, lebih parah, dan lebih dahsyat melebihi dosa menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, orang yang kafir tidak mau beriman kepada Allah dan menyekutukan Allah layak sekali untuk tidak dicintai. Tetapi, ingat juga bahwa tidak harus dimusuhi selama mereka tidak menjahati kita, tidak mengusir kita dari tempat kita, tidak memerangi kita. Maka kita bisa berbuat baik dengan mereka dan Allah suka perbuatan tersebut karena bisa saja ini merupakan jalan bagi mereka tertarik masuk ke dalam Islam.

Kebanyakan orang kafir yang masuk ke dalam Islam itu bukan karena mereka perperangan akan tetapi karena telah melihat bagaimana akhlak kaum muslimin. Inilah alasan pentingnya tauhid untuk kita tegakkan di tengah-tengah masyarakat kita.

  1. Dengan tauhid, seorang itu berhak mendapat keamanan dan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Keamanan seperti apa yang dimaksud? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Ali ‘Imran ayat 151,

سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا

“Akan Kami masukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, karena mereka mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah yang Allah tidak menurunkan bukti (hujjah) tentang itu.” (QS Ali ‘Imran : 151)

Orang-orang kafir sebenarnya takut sekali dengan orang-orang muslim. Disebabkan oleh ketakutan mereka itu, mereka membuat julukan kepada kita dengan mengatakan radikal. Padahal di agama mereka banyak orang-orang yang radikal, membunuh tanpa alasan, membunuh karena stres, membunuh satu keluarga bahkan mereka datang ke masjid dan mereka membunuh orang yang berada di dalam masjid.

Mereka menzhalimi kita dan malah menuduh kita yang menzhalimi. Kalau ada seorang muslim yang berpikir bahwasanya Islam adalah agama yang membuat kerusuhan maka orang ini dipertanyakan agamanya karena dia tidak paham dengan agamanya.

Orang-orang kafir selalu takut dengan orang-orang muslim karena Allah yang menurunkan rasa takut itu kepada mereka. Tapi, ingat bahwa mereka takut kepada kita di saat kita berpegang dengan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, hadits ini dari Jabir bin Abdillah -Radhiyallahu ‘anhu-, Rasulullah ﷺ bersabda,

“Aku dianugerahi lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang pun dari Rasul-Rasul sebelumku, yaitu aku diberikan pertolongan dengan takutnya musuh mendekatiku dari jarak sebulan perjalanan,…” (HR. Al-Bukhari (no. 335) dan Muslim (no. 521)

Intinya, yang pertama yaitu, bahwa Rasulullah ﷺ ditolong Allah dengan rasa mencekam bagi orang kafir sejak sebulan perjalanan. Makanya orang-orang kafir takut dengan kaum muslimin. Semakin kita berpegang kepada Al-Qur’an dan sunnah maka orang kafir tersebut semakin takut dengan kita.

 

  1. Tauhid merupakan poin pertama yang diperintahkan di dalam agama Islam.

Oleh karenanya, segala perbuatan, baik itu terkait dengan ibadah ataupun muamalah, maka itu semuanya kembali kepada tauhid. Sebaliknya, tidak ada perkara yang paling dilarang dalam Islam melebihi perkara syirik. Oleh karena itu, semua keburukan, baik itu dosa besar atau dosa kecil, maka semuanya itu kembali kepada kesyirikan. Semakin kokoh tauhid seseorang, maka akan semakin baik hatinya dan semakin dekat dia dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang seorang dari sebuah larangan, maka perbuatan yang pertama yang Allah larang adalah perbuatan syirik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-An’am ayat 151,

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ

“Katakanlah (wahai Rasul), ‘Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kalian kepada kalian,…’

Apa yang pertama diharamkan oleh Allah ?

أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

‘…(yaitu), janganlah kalian mempersekutukan sesuatu denganNya,…’ (QS. Al-An’am : 151)

Makanya ketika kita katakan tadi bahwa seorang yang membunuh seribu orang manusia tapi dia tidak menyekutukan Allah itu masih lebih ringan ketimbang seorang yang tak pernah menyakiti manusia tapi dia menyekutukan Allah. Seorang yang membunuh tadi lebih baik ketimbang seorang yang menyekutukan Allah dikarenakan pengaruh tauhid, Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa saja mengampuni dirinya. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan dalam surat An-Nisa ayat 48,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) dipersekutukanNya Dia (syirik),…” (QS. An-Nisa’ :48)

Seseorang yang baik dengan orang tuanya, baik dengan tetangganya, baik dengan umat muslim lainnya tetapi dia berbuat syirik, maka dia tidak akan mungkin masuk surga karena dia tidak mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika dia orang yang bertauhid, kemudian dia masih berbuat seperti minum khamr, zina, membunuh, atau mencuri, apabila dia mati dalam keadaan seperti itu maka masih ada kemungkinan diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“…dan Dia mengampuni apa (dosa-dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa’ :48)

Tidak berarti orang yang sudah bertauhid boleh berbuat apa saja. Apakah anda yakin bahwa anda termasuk orang yang dikehendaki Allah untuk diampuni dosanya sehingga tidak ada masalah ketika bergunjing, mencuri, utang tidak dibayar, karena yang penting bertauhid ? Kalau kita tidak bisa memastikan bahwa kita termasuk orang yang diampuni, maka berupayalah sekuat tenaga untuk menjauhkan kemaksiatan. Karena dengan itu akan mengundang rahmat Allah kepada kita sehingga Allah mengampuni dosa-dosa kita.

 

  1. Tauhid merupakan perbuatan kebaikan yang terbesar pahalanya.

Dibandingkan perbuatan-perbuatan yang lain, tauhid merupakan perbuatan kebaikan yang terbesar pahalanya. Mungkin seorang beramal haji atau berbakti kepada kedua orang  tuanya, akan tetapi itu semua pahala dan ganjarannya masih di bawah orang yang bertauhid karena tidak ada ganjaran perbuatan ma’ruf yang terbesar melebihi bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh shahabat,

“Ya Rasulullah, amalan apakah yang paling baik?”

Lantas Nabi ﷺ bersabda,

“Beriman kepada Allah dan beriman kepada Rasulullah ﷺ.”

Jika tauhid merupakan perbuatan ma’ruf yang terbesar maka syirik merupakan perbuatan mungkar yang terbesar. Tidak ada kemungkaran yang lebih besar melebihi kemungkaran orang yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh seorang shahabat,

“Ya Rasulullah, dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?”

Beliau menjawab,

“Engkau menyekutukan Allah padahal Allah yang menciptakan kamu.” HR. Bukhâri (no. 4477), Muslim (no. 86).

 

  1. Tauhid merupakan modal dasar seseorang untuk diampuni dosanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah ﷺ bersabda,

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Wahai anak Adam, jika engkau mendatangiKu dengan dosa sepenuh bumi kemudiaan engkau tidak berbuat syirik kepadaKu dengan sesuatu apa pun, maka aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi itu pula.” HR. Tirmidzi (no. 3540).

Jadi, rugi sekali orang yang tidak mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanya penting sekali masyarakat kita untuk mengerti tauhidullah.

Demikian, semoga kita bisa menghujamkan pentingnya tauhid itu dalam hati kita, keluarga kita, dan di masyarakat kita sehingga Allah bisa mengampuni dosa-dosa kita dan mengumpulkan seluruh kita kelak di surgaNya, InsyaAllah.

Artikel ini bersambung ke Buah Manis Bertauhid.