Kitab Qowa’idul Mustla Fi Sifatillah Ta’ala Wa Asmaihi Husna (Trilogi Kaidah Dalam Sifat Allah Dan Nama Allah Yang Sempurna
Bab 2: Kaidah – Kaidah Dalam Memahami Sifat-Sifat Allah
Kaidah 1: “Semua sifat Allah adalah sifat kesempurnaan, tidak terdapat kekurangan didalamnya dari sisi manapun, seperti sifat hidup, ilmu, kemampuan, pendengaran, penglihatan, kasih sayang, keperkasaan, kebijaksanaan, ketinggian, keagungan, dll”
Semua sifat Allah yang sempurna telah di tunjukkan di dalam dalil Wahyu akal dan Fitrah:
1. Dalil wahyu, Allah berfirman:
لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِ ۖ وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Nahl: 60]
Yang dimaksud dengan “Al-Matsalul A’laa” adalah sifat Allah kesempurnaan Allah yang jauh lebih sempurna dari kesempurnaan sifat makhluk. Ayat tersebut menjelaskan bahwasanya semua yang sempurna bagi makhluk dari segala sisi maka hal tersebut wajib untuk dimiliki oleh Allah dari sifat kesempurnaan tanpa kekurangan sedikitpun, dan apabila ada sifat kekurangan bagi makhluk maka sifat tersebut wajib untuk disucikan dari Dzat Allah secara keseluruhan.
Oleh karena itu, dapat kita pahami bahwasannya ketersamaan kata dari sifat makhluk dan sifat Allah hanyalah menunjukkan kesamaan substansi atau inti makna saja, adapun deskripsinya maka haris dibedakan dengan “Qiyas Aulawi”, yaitu bahwasanya deskripsi sifat Allah jauh lebih sempurna daripada deskripsi sifat makhluk.
2. Dalil Akal, yaitu bahwasanya semua yang ada secara hakikat maka harus memiliki sifat, baik itu sifat kesempurnaan ataupun sifat kekurangan. Karena tidak ada satupun dzat di alam nyata yang tidak memiliki sifat, keberadaan dzat tanpa sifat hanya ada pada pikiran dan khayalan manusia saja, adapun di alam nyata maka tidak mungkin ada dzat yang tidak memiliki sifat.
Dan Allah harus memiliki sifat, maka sebuah kebatilan dan kemustahilan jika saja Allah subhanahu wa ta’ala yang Maha Sempurna, yang wajib untuk disembah dan diibadahi untuk memiliki sifat kekurangan, hal tersebut adalah kebatilan dan kemustahilan.
Oleh karena itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala menetapkan kebatilan terhadap penyembahan yang ditujukan kepada berhala dikarenakan pada hakekatnya berhala-berhala tersebut tidak memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan memiliki banyak sifat kurang dan lemah sehingga tidak layak untuk disembah dan diibadahi.
Allah berfirman:
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَن دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?” [Ahqaf: 5]
Dan juga:
وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ () أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ ۖ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
“Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan.” [Nahl: 20 – 21]
Begitu juga Allah berfirman terkait perkataan Nabi Ibrahim kepada ayahnya:
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئًا
“Ketika dia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya, “Wahai Bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak pula bermanfaat kepadamu sedikit pun?” [Maryam: 42]
Begitu juga perkataannya kepada kaumnya:
قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ () أُفٍّ لَّكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
” Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?”Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?” [Anbiya: 66-67]
Dapat kita pahami dari ayat-ayat diatas, Allah menjelaskan bahwasanya adalah kesalahan fatal dalam akal Logika dan cacat pemikiran ketika ada seseorang yang menyembah sesuatu dzat yang tidak bisa menciptakan apa-apa bahkan dzat tersebut adalah dzat yang mati, karena salah satu kekhususan tuhan yang berhak disembah adalah bahwasanya ia mampu menciptakan sesuatu hidup.
Oleh karena itu, kita lihat semua dakwah para Nabi dan Rasul adalah memerintahkan untuk menyembah Allah semata dengan menggunakan pendekatan rasional yang mudah diterima oleh orang awam, seperti Nabi Ibrahim yang mengingkari perbuatan ayah dan kaumnya yang menyembah berhala dengan menetapkan bahwasanya bagaimana mungkin dzat yang tidak mendengar, tidak bisa melihat, tidak bisa memberikan sesuatu kepada selainnya, tidak bisa memberi manfaat dan madhorot berhak untuk disembah?, bahkan dzat yang berhak disembah adalah dzat yang memiliki sifat kesempurnaan dan sekaligus bisa memberikan kesempurnaan kepada selainnya.
3. Dalil Fitrah, Bahwasanya jiwa manusia diciptakan oleh Allah tertaut dengan kecintaan dan pengagungan kepada Allah, seseorang secara fitrah tidak akan murni melakukan penyembahan kepada selain Allah dikarenakan ia harus mengakui kelemahan sesembahan tersebut, karena jiwa manusia hanya akan bisa tunduk dan merendahkan diri secara totalitas hanya kepada Dzat pencipta yang memiliki segala kesempurnaan.
–
–
Adapun sifat-sifat kurang, maka sifat tersucikan dadi Dzat Allah, seperti Kematian, Kebodohan, lupa, Lemah, Buta, Tuli, dll. Allah berfirman:
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا
“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” [Furqan: 58]
Ayat diatas menunjukkan bahwa ketika seseorang mau berserah diri dan bergantung kepada sesuatu maka ia harus bergantung kepada Dzat yang Maha hidup dan tidak mati, hal tersebut dikarenakan ketika dzat tersebut mati maka orang itu akan kehilangan tempat bergantung dan terombang ambing tanpa arah, berbeda jika orang itu bergantung kepada Dzat yang tidak pernah mati, ketika Dzat tersebut tidak pernah Mati arau Abadi maka pasti ia juga Azali atau tidak didahului oelh ketiadaan, sehingga Allah akan tetap Ada kapanpun hambaNya bergantung kepadaNya.
Allah juga berfirman:
قَالَ عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي فِي كِتَابٍ ۖ لَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى
“Musa menjawab: “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa” [TaHa: 52]
Dan juga:
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِن شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًا
“Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” [Fatir: 44]
أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُم ۚ بَلَىٰ وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ
“Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.” [Zukhruf: 80]
Rasulullah juga pernah bersabda:
ما من نبيٍّ إلا وأنذر قومَه الأعْوَرَ الدَّجَّالَ، ألا إنه أَعْوَرُ، وإنَّ ربَّكم ليس بأعْوَرَ، ومكتوبٌ بين عَيْنَيْهِ ك ف ر
“Tidak ada seorang nabi pun melainkan telah memperingatkan umatnya dari dari orang bermata satu lagi pendusta (Dajjal). Ingatlah, ia bermata satu, sedangkan Tuhan kalian tidak bermata satu, dan tertulis di antara kedua matanya Ka fa ra”.[H.R Bukhari Muslim]
Pada hadist diatas, Rasulullah menjelaskan bahwasanya Allah disifati dengan sifat yang sempurna sehingga tidak mungkin secara akal sehat Allah memiliki sifat kekurangan, oleh karena itu Rasulullah menjelaskan dengan sifat yang paling jelas kekurangannya yaitu adalah buta.
Adapun Ahlu kalam, mereka menetapkan bahasanya sifat kurang yang paling jelas adalah sifat Jism atau Jasad, jika saja itu benar seharusnya pada hadis tersebut Rasulullah mengatakan bahwasanya dajjal itu ber-jasad atau Jism dan Tuhan kalian tidak ber-jasad atau Jism, akan tetapi tidak seperti itu. hal ini menunjukkan bahwasanya sifat “jasad” atau “jism” tidak serta merta menjadi kekurangan pada Dzat Allah, lain halnya dengan sifat buta yang mana sudah jelas kekurangannya.
Allah juga telah menetapkan pembalasan bagi manusia yang menetapkan sifat kekurangan bagi Dzat Allah, Allah berfirman:
وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ
“Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.” [Al-Maidah: 64]
Begitu juga Allah berfirman:
لَّقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ ۘ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا وَقَتْلَهُمُ الْأَنبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya”. Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang mem bakar”. [Al Imran: 181]
Allah juga telah mensucikan diri Allah sendiri dari sifat-sifat kurang yang dituduhkan oleh orang yang meragukan keesaan Allah, Allah berfirman:
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ () وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ () وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Mahasuci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.” [Saffat: 180-182]
Allah juga berfirman:
مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِن وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَٰهٍ ۚ إِذًا لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ
“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu”. [Muminun: 91]
Pada ayat diatas Allah mensucikan diri Allah dari memiliki adanya sekutu ataupun keturunan dengan pendekatan logika, yaitu konsekuensi logis dari keberadaan sekutu selain Allah adalah bahwasanya tuhan-tuhan tersebut akan memiliki makhlul dan teritorial sendiri yang mana mereka tidak menguasai teritori tuhan yang lain sehingga mereka tidak memiliki segala hal, ini adalah kekurangan nyata yang ada pada tuhan-tuhan tersebut sehingga kekurangan tersebut membatalkan predikat ketuhanan dari diri tuhan-tuhan tersebut dan menjadikan mereka adalah tuhan-tuhan bathil, konsekuensi logis ini yang menunjukkan bahwa mustahil adanya tuhan lebih dari satu atau adanya tuhan selain Allah.
Adapun jika itu adalah sifat kondisional yang mana sifat tersebut menjadi sifat sempurna pada kondisi tertentu dan menjadi sifat kurang pada kondisi tertentu maka sifat tersebut tidak boleh ditetapkan secara mutlak pada Dzat Allah, namun harus dikaitkan dengan kondisinya sehingga jelas bahwa sifat tersebut adalah sifat kesempurnaan. Seperti sifat Makar(Strategi), sifat Kaid (Manipulasi), Khida’ (Pengelabuan), dll.
Maka sifat tersebut menjadi sempurna dan baik pada kondisi tertentu yaitu pada kondisi ketika sifat tersebut ditujukan kepada objek yang duluan melakukan hal tersebut dengan latar belakang kejahatan dari musuh-musuh Allah, maka ketika Allah membalas perbuatan mereka dengan sifat tersebut maka hal tersebut menunjukkan kesempurnaan kekuatan Allah yang mampu membalas mereka bahkan lebih dahsyat dari mereka, perbuatan tersebut adalah kebaikan dan kesempurnaan yang mana perbuatan Allah akan selalu menang daripada musuh-musuh Allah.
Oleh karena itu Allah tidak pernah menyebutkan sifat-sifat tersebut secara mutlak, akan tetapi Allah menyebutkan sifat-sifat tersebut dengan dikaitkan kepada objek yang pantas menerima hal tersebut. Allah berfirman:
وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” [Anfal: 30]
Begitu juga Allah berfirman:
إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدًا () وَأَكِيدُ كَيْدًا () فَمَهِّلِ الْكَافِرِينَ أَمْهِلْهُمْ رُوَيْدًا
“Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya.Dan Akupun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya.Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar.” [Tariq: 15-17]
Dan juga:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” [Nisa: 142]
Oleh karena itu Allah tidak pernah mensifatkan diriNya dengan sifat Khianat, karena Khianat adalah Pengelabuan khusus dalam keadaan perjanjian dan kepercayaan, sehingga mustahil Allah mengelabui makhluk yang mentaati dan percaya terhadap pengkabaran Allah.
–
–
–
Kaidah 2: Pembahasan Sifat Allah lebih luas daripada pembahasan Nama Allah.
Yaitu bahwa keterkaitan nama Allah, sifat Allah, dan pengkabaran terhadap Dzat Allah dalah keterkaitan umum dan khusus yang salah satunya lebih khusus dan lebih umum dari selainnya.
Perlu kita ketahui bahwasanya ada 3 hal yang bisa menjadikan seorang hamba mengenal terhadap tuhannya dan mampu menjelaskan terkait tuhannya, yaitu:
1. Nama Allah, yaitu semua Nama yang Allah dipanggil dengan nama tersebut.
2. Sifat Allah, yaitu semua sifat yang Allah disifati dengan sifat tersebut.
3. kabar terkait Dzat dan sifat Allah, yaitu pengkabaran dan penjabaran dari nama dan sifat Allah yang sempurna.
Maka kaidah dalam pembahasan Asma wa sifat adalah bahwasanya “Semua nama Allah mengandung Sifat Allah yang terkandung dalam nama tersebut sesuai dengan susunan kata dan kalimat dalil, Namun tidak semua sifat Allah dinamai dengan kata sifat tersebut”.
Dan diantara sifat-sifat Allah, terdapat sifat Fi’liyyah yang disebut dengan “Perbuatan Allah”, yang mana perbuatan tersebut tidak memiliki akhir pada waktu lampau dan pada waktu yang akan datang, hal tersebut dikarenakan Dzat Allah berbuat dengan kehendak-Nya yang penuh dengan hikmah dan Allah Mampu untuk berbuat kapanpun Allah ingin sehingga tidak mungkin Allah tidak berbuat kecuali dengan kehendak Allah juga, dan juga dikarenakan Dzat Allah adalah Dzat yang Azali dan Abadi sehingga perbuatan Allah juga terus-terusan terjadi sampai Azali tanpa awal dan akan terus-terusan terjadi sampai Abadi tanpa akhir.
Allah berfirman:
يَسْأَلُهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” [Rahman: 29]
Begitu juga dengan sifat berbicara Allah, Allah berfirman:
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِن بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Luqman: 27]
Diantara contoh sifat perbuatan Allah yaitu: Sifat Datang, Sifat Mendatangi, Sifat Mengambil, Sifat Menetapkan, Sifat Penghukuman, Dll, seperti firman Allah:
وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا
“Dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.” [Fajr: 22]
Begitu juga firman Allah:
هَلْ يَنظُرُونَ إِلَّا أَن تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ
“Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu.” [Al-An’am: 158]
Dan juga:
وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَن تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Manusia.” [Hajj: 65]
Begitu juga Rasulullah bersabda:
ينزلُ اللهُ كلَّ ليلةٍ إلى السماءِ الدنيا ، حين يبقى ثلثُ الليلِ الآخرِ ، فيقولُ: من يدعوني فأستجيبُ له ، من يسألني فأعطيه ، من يستغفرُني فأغفرُ له
“Tuhan kita Tabaaraka wa ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku berikan, siapa yang minta ampun kepada-Ku akan Aku ampuni.” [HR. Bukhari – Mutawattir]
Maka yang harus dilakukan oleh seorang yang beriman kepada Allah dan Rasulullah adalah mengimani dan menetapkan sofat yang Allah tetapkan dalam Alqur’an dan Hadist sesuai dengan Substansi kata dari tekstual lafadz yang dilafadzkan dan menyerahkan Deskripsi/Kaifiyyat sesuai dengan Dzat Allah yang sempurna sehingga tidak sama dengan Deskripsi sifat makhluk yang serba kurang.
Dan ketika itu adalah sifat Allah dan bukan nama Allah, maka kita mensifatkan Allah dengan sifat tersebut namun tidak menamai Allah dengan kata tersebut, maka kita tidak menamai Allah dengan “Yang Maha turun” atau “Yang Maha datang”, dll, karena hal tersebut bukanlah nama Allah.