Penjelasan Kitab Qowaidul Mutsla (Bagian 10)
Imam Fikri, S. H, M. Ag
Kitab Qowa’idul Mustla Fi Sifatillah Ta’ala Wa Asmaihi Husna (Trilogi Kaidah Dalam Sifat Allah dan Nama Allah Yang Sempurna)
EPILOG:
Jika ada seseorang yang mengatakan:
Kita sudah mengetahui kesalahan dan kebatilan orang-orang Ahlu kalam dan sekte-sekte yang mentakwil-takwil Ayat-ayat sifat Allah, namun mereka adalah Asy’ariyyah yang notabenenya adalah pengikut Abu Hasan Al-Asy’ari yang menyambung nasabnya kepada Abu Musa Al-Asy’ariy, yang mana adalah mayoritas dari kaum muslimin, dan juga didalamnya terdapat ulama-ulama masyhur seperti Al-Ghozali, Al-Juwaini, Al-Qurthubiy, Ar-Rozy, Baqillani, dll, Bagaimana bisa mereka berpemahaman Bathil?
Jawab:
1. Pemahaman dan pendapat Mayoritas manusia belum tentu benar, karena kebenaran tidak tergantung kepada berapa banyak orang yang berpendapat dengannya, namun kesesuaiannya dengan Dalil Al-Qur’an dan Hadist.
Allah berfirman:
إِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [Al-An’am 166]
2. Perlu kita ketahui bahwa sudah ada Ijma’ Ulama terhadap metode Ahlu Sunnah yaitu meyakini sifat-sifat Allah sesuai tekstual tanpa mentakwil kandungan maknanya, yang mana Ijma tersebut bersumber dari para sahabat yang mana mereka adalah sebaik-baiknya umat, begitu juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan, berbeda dengan Ahlu Takwil yang tidak memiliki sumber metode yang jelas dari lara ulama terdahulu.
3. Ijma’ para sahabat dan salafus sholih adalah Hujjah yang tidak terbantahkan, karena kandungan Ijma tersebut sesuai dengan kandungan makna dalam Al-Qur’an dan Hadist.
4. Abu hasan Al-Asy’ariy tidak maksum (tidak luput dari dosa dan kesalahan) dan mereka juga tidak mengatakan mereka pasti tidak salah, kleh karena itu kita lihat Abu hasan dan selainnya hijrah dan rujuk dalam beberapa keyakinan mereka. Oleh karena ulama yang sebenarnya adalah mereka yang mengetahui kemampuan keilmuan mereka sehingga mudah untuk rujuk dan kembali kepada kebenaran.
5. Abu Hasan Al-Asy’ariy melewati beberapa fase keyakinan dalam hidup beliau:
a. Masa berpemahaman Muktazilah, beliau mengikuti ayah tiri beliau yaitu Abu Ali Aj-Jubba’i yang merupakan seorang Muktazilah, selama 40 tahun, kemudian beliau hijrah dan membeberkan kesesatan Muktazilah dan Membantah mereka, seperti yang dituliskan dalam kitab beliau “Maqolatul Islamiyyin” dan “Risalatu Ahlu Tsagr”.
b. Masa berpemahaman Kullabiyyah, beliau mengikuti pemahaman Ibnu Kullab yang mana pemahaman ini masih termasuk pemahaman ahlu kalam yaitu menafikan sifat-sifat Fi’liyyah Allah dan menggunakan takwil.
c. Masa berpemahaman Ahlus Sunnah dengan mengikuti pemahaman Imam Ahmad bin Hanbal baik dalam Aqidah keyakinan dan Fiqih mazhab Hambali, seperti yang beliau tulis dalam kitab “Al-Ibanah min ushul Diyanah”. walaupun begitu, para ulama menyebutkan bahwa masih tersisa syubhat-syubhat ahlu kalam sehingga ada beberapa masalah pemahaman beliau yang masih terkontaminasi dengan ahlu kalam.
Oleh karena itu, harus kita pahami bahwa beliau sudah hijrah ke Ahlu Sunnah, ini adalah kenyataan bagi mereka yang menisbatkan diri kepada Asy’ariyyah yang mana Abu Hasan bahkan sudah terang-terangan hijrah dalam kitab beliau.
Beliau menekankan dalam kitabnya bahwa berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah dan menjadikan keduanya sebagai pedoman dalam keyakinan dan amalan, Allah berfirman:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya“. [Al Hashr: 7]
Begitu juga berpegang teguh dengan pemahaman Salafus Sholih dari sahabat dan orang-orang setelah mereka. Adapun para ahlu kalam dan ahlu takwil dalam Sifat Allah, diantara mereka ada yang meniadakan nama dan sifat Allah, ada yang meniadakan Semua sifat Allah, ada yang meniadakan semua sifat Fi’liyah Allah, dan ada yang hanya menetapkan 7 atau 8 sifat Allah saja, seperti Asy’ariyyah yang hanya menetapkan sofat Hidup, Ilmu, Kemampuan, Keinginan, Pendengaran, Penglihatan, dan Berbicara.
Metode Ahlu kalam dalam sifat Allah adalah menetapkan peniadaan pada semua sifat tanpa penetapan sifat sebaliknya, dan tidaklah mereka kecuali hanya menetapkan kekurangan pada Dzat Allah. Hal tersebut dikarenakan mereka mengambil kebenaran dari akal mereka tanpa mengambil dari Al-Qur’an dan Hadist, padahal Allah berfirman:
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan“. [Nahl: 44]
Dan kerusakan Ahlu kalam ini disebabkan karena menentang firman Allah lalu mengubahnya, dikarenakan mereka mengira bahwa Tekstual Dalil adalah kesalahan yang harus diubah, padahal Akal mereka yang menyamakan antara Allah dengan makhlukNya.
Allah berfirman:
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali“. [Nisa: 115]
Oleh karena itu hendaknya kita mengikuti jalan yang lurus yang sesuai dengan fitrah yang Allah tanamkan dalam hati setiap hamba, Allah berfirman:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” [Anam: 153]
Maka dengan itu janganlah kita mengikuti perkataan seseorang selain Rasulullah dan yang sesuai dengan perkataan Rasulullah, atau mengikuti mazhab tertentu sehingga ketika bertentangan dengan Tekstual Al-Qur’an dan Hadist ia mengubah-ubah makna Al-Qur’an dan Hadist dengan memaksakan untuk sesuai dengan pemahaman mazhabnya atau hawa nafsunya, maka pada hakikatnya ia bukanlah pengikut petunjuk namun pengikut hawa nafsu., ini telah dicela oleh Allah:
وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ بَلْ أَتَيْنَاهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِم مُّعْرِضُونَ
“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al-Qur’an) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” [Muminun: 71]
Maka pada hakikatnya, orang yang memperhatikan hal ini, ia akan kaget dan takjub akan kefakirannya kepada Allah yang memberi petunjuk kepada HambaNya, dan terus meminta kepada Allah untuk tetap dan dikembalikan kepada hidayah jalan yang lurus, karena siapa yang meminta kepada Allah maka Allah akan mengabulkan permintaannya termasuk hidayah dalam jalan yang lurus, Allah berfirman:
إِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran“. [Baqarah: 186]
Kita memohon kepada Allah untuk Allah jadikan kita sebagai orang yang melihat kebenaran sebagai kebenaran dan melihat kebatilan sebagai kebatilan, sehingga tidak tersamarkan bagi kita antara haq dan bathil dari orang-orang yang menutupi kebenaran dengan kebatilan atau kebatilan dengan kebenaran, dan kita meminta perlindungan kepada Allah agar tidak menjadi orang yang dijadikan ragu oleh Allah setelah kita mendapat petunjuk.
Ditulis Oleh
Imam Fikri, S. H, M. Ag
Dosen: Islamic Studies @ UNIMED, Islamic Theology @ IMUN Islamic Law Methodology @ IMUN & Penulis Buku: Menghapus Titik Kelabu dan Mercusuar Biru