Hukum Mengambil Keuntungan dari Pengadaan Barang di Kantor

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh ustadz.

Ana mau bertanya ustadz. Ada teman ana bertanya, ia bekerja di bagian pengadaan barang seperti barang ATK, sembako dll. Qadharullah untuk bulan puasa ini pihak perusahaan mau order paket sembako dengan budget 200 ribu per paket. Nah jika dia cari barang orderan tersebut pakai modal pribadi terlebih dahulu kemudian baru dijual lagi ke pihak perusahaan dengan harga yang sudah di tentukan apakah boleh ustadz? Karena kemungkinan dia bias cari barang paket sembako itu dengan harga 180 / 190 ribu per paket tanpa mengurangi takaran/kualitas barang. Sedangkan budget dari perusahaan sudah ditentukan 200 ribu pe rpaket. Mohon jawabannya ya ustadz, Syukron, Jazakallahu khairan

Jawaban

والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه وبعد

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Dari pertanyaan ini ada dua masalah yang saya dapatkan:

1. Mengambil tambahan / keuntungan dari selisih harga barang yang ditetapkan perusahaan lebih besar dari harga pasar dari barang tersebut. Padahal sang pegawai digaji dengan tugas untuk mengadakan barang-barang tersebut. Maka ini terlarang, berdasarkan hadits berikut,

«من استعملناه على عمل فرزقناه رزقا فما أخذ بعد ذالك فهو غلول» رواه أبو داود (٢٩٤٣)

“Siapa saja yang kami pekerjakan pada sebuah pekerjaan lalu kami berikan upah/gaji kepadanya maka apa saja yang ia ambil setelah itu adalah ghulul.” (HR. Abu Dawud: 2943)

2. Tidak bisa dibedakan antara penjual dan pembeli atau penjual merangkap sekaligus pembeli. Gambarannya adalah :
Ketika sang pegawai membeli barang – barang tersebut dengan harga lebih murah lalu ia ingin mendapatkan keuntungan dari penjualan barang-barang tersebut, maka ia jual kepada perusahaannya yang sebenarnya ia adalah wakil dari perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang tersebut. Sehingga terjadilah akad jual beli dengan kondisi penjual adalah sekaligus pembeli dari barang-barang tersebut. Maka ini menyalahi prinsip akad jual-beli, yaitu adanya dua pihak yang berakad; penjual dan pembeli.

والله أعلم بالصواب.