Penjelasan Kitab Qowaidul Mutsla Bagian 1 Kaidah Memahami Nama dan Sifat Allah

Penjelasan Kitab Qowaidul Mutsla (Bagian 7)

29th November 2025
Imam Fikri, S. H, M. Ag

Kitab Qowa’idul Mustla Fi Sifatillah Ta’ala Wa Asmaihi Husna (Trilogi Kaidah Dalam Sifat Allah dan Nama Allah Yang Sempurna)


Bab 3: Kaidah-Kaidah Dalam Memahami Dalil-Dalil Nama dan Sifat Allah


Kaidah 1: “Dalil-dalil yang menetapkan nama dan sifat Allah adalah Al-Qur’an dan Hadist, maka selain dua hal tersebut tidak bisa menetapkan nama dan sifat Allah”

Dari kaidah diatas, maka berlaku beberapa hal:

1. Wajib menetapkan nama dan sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadist.
2. Wajib meniadakan sifat kurang yang dinafikan dalam Al-Qur’an dan Hadist.
3. Wajib diam (tidak menetapkan dan tidak meniadakan) sifat-sifat yang tidak ditetapkan dan tidak dinafikan dalam Al-Qur’an dan Hadist.

Maka perbuatan mensifati Allah dengan sebutan yang tidak ada dalam Al-Qur’an dan Hadist dari kata ambigu (mengandung makna yang banyak) tidak diperbolehkan karena akan memicu kepala kesalahan dalam pemahaman makna (Fallacy of Ambiguity).

Adapun makna dari kata tersebut, maka kita harus memperincinya, jika maknanya mengandung kebaikan yang tidak disisipi kekurangan sedikitpun maka makna tersebut diterima, namun jika maknanya mengandung kekurangan maka makna tersebut harus disucikan dari Dzat Allah.

Diantara sifat-sifat Allah seperti sifat-sifat perbuatan yang harus ditinjau dari 2 sisi, yaitu Substansi sifat yang berkaitan dengan kemampuan Allah, dan Aksi sifat yang berkaitan dengan Keinginan Allah. Contoh: Sifat Bersemayam diatas Arsy, Sifat Turun ke langit dunia, sifat Datang saat hari kiamat untuk menghakimi hambaNya, dll.

Maka semua sifat perbuatan Allah adalah sesuai firman Allah:

قال كذالك الله يَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

“Berfirman Allah: “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya“.

Maka semua sifat perbuatan Allah adalah Azali Substansi, sedangkan Aksi dari Sifat Allah selalu baru dan berulang-ulang terus terusan sesuai dengan keinginan Allah dikarenakan ada hikmah di dalamnya, dan itu tidak menunjukkan kekurangan pada Dzat Allah.

Diantara sifat-sifat Allah juga seperti sifat-sifat yang bukan perbuatan (Dzatiyyah), maka sifat-sifat tersebut tidak ada aksinya, maka Dzat tersebut Azali Qodim keberadaannya, dan sifat sifat tersebut tidak berkaitan dengan kehendak Allah. Contoh: Sifat Wajah, Kedua mata, Kedua tangan, dll.

Diantara sifat-sifat Allah ada sifat-sifat yang perlu ditinjau dari sisi Kauni (Kenyataan & Takdir) dan syar’i (Kebenaran & Syariat), seperti sifat Berbicara Allah yang terbagi kepada Perkataan Kauni (Ciptaan) dan Perkataan Syar’i (Wahyu). Begitu juga sifat Ketinggian Allah yang terbagi kepada Keinginan Kauni / yang dikehendaki Allah (Qodo’ & Qodar) dan Keinginan Syar’i / yang dicintai Allah (Syariat).

Diantaranya juga, ada sifat Ridho, Cinta, Murka, Benci, dll.

Begitu juga diantara sifat-sifat kurang yang Allah sucikan sifat tersebut dari Dzat Allah yang menunjukkan kepada makna kebalikannya yang notabenenya adalah makna kesempurnaan, seperti Kematian, Tidur, Mengantuk, Lemah, Bodoh, Lalai dari perbuatan hamba, Adanya tandingan, serupa, dll.

Dan diantara hal hal yang tidak ditetapkan dan tidak dinafikan seperti “Berada di Arah”, maka ketika ditanya “Apakah anda menetapkan bahwa Allah di Arah?”

maka Jawabannya: “kata Arah yang dinisbatkan kepada Dzat Allah tidak ada disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadist, adapun maknanya maka kita lihat jika maksudnya adalah” bawah” maka Allah tersucikan dari makna tersebut, atau Arah yang berupa entitas yang ada pada kenyataan, maka Allah tidak terlingkup dengan Arah tersebut yang notabenenya adalah makhluk. Namun jika maksudnya adalah Arah yang notabenenya sesuatu yang tidak ada di alama nyata namun hanya menunjukkan posisi Allah dadi makhluknya maka Allah berada di Arah atas makhlukNya.

Kaidah ini ditetapkan oleh beberapa dalil, yaitu Allah berfirman:

وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan Al-Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” [Anam: 155]

Begitu juga:

فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk“. [Araf: 158]

Begitu juga Allah berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” [Al Hashr: 7]

Dan juga:

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” [Nisa: 80]

Begitu juga:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [Nisa: 59]

Dan juga:

وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” [Maidah: 49]

Maka semua semua yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadist wajib untuk diyakini, tidak ada pertentangan antara Al-Qur’an dan Hadist, dan harus mengembalikan semua pertentangan kepada Al-Qur’an dan Hadist.

Begitu juga secara Akal, bahwasanya perincian terkait apa yang wajib, mustahil, dan mungkin bagi Allah adalah hal Ghoib ynag tidak bisa diteliti oleh akal semata karena akal tidak mendapatkan data dari panca indra terkait hal ghoib, maka jika begitu wajib untuk berpegang kepada wahyu yang sudah dipastikan kebenarannya oleh akal secara pasti.


Kaidah 2: “Wajib menetapkan makna tekstual/tersurat dari Al-Qur’an dan Hadist tanpa mengubah-ubah maknanya”

Yaitu wajib memahami makna Tekstual Al-Qur’an dan Hadist tanpa mencari makna tersirat lain atau makna kontekstual dalam hal-hal ghoib. Kaidah ini ditetapkan oleh firman Allah:

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ () نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ () عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ () بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ

Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril). ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. dengan bahasa Arab yang jelas.” [Shuara: 195]

Allah juga Berfirman:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” [Yusuf: 2]

Semua ayat yang menetapkan Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab menunjukkan bahwa Semua kata-kata bahasa arab yang allah pilih untuk Allah firmankan guna memaksudkan makna yang ingin Allah sampaikan kepada Hamba-hambaNya adalah benar-benar Allah inginkan secara Etimologi dan Terminologi yang populer dari tekstual tersebut tanpa perlu dicari-cari makna yang tersirat darinya.

Oleh karena itu Allah mencela orang-orang yahudi yang mengubah-ubah makna firman Allah, Allah berfirman:

أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?“. [Baqarah: 75]

Dan hal tersebut telah dibuktikan juga oleh Akal sehat, yaitu bahwasanya yang berfirman Tekstual tersebut adalah Allah yang notabenenya adalah Dzat yang paling tahu terhadap DzatNya sendiri, paling tahu terhadap hambaNya dan akal hambaNya, paling tau terhadap apa yang difirmankan, paling tau terhadap apa yang dimaksudkan, paling Jelas perkataanNya, paling Fasih perkataanNya, paling ingin untuk memberi petunjuk kepada Hamba-hambaNya, sehingga Tekstual dari FirmanNya adalah seuatu ketetapan yang paling hikmah yang mengharuskan makna Tekstualnya adalah kebenaran dan kepastian, jika tidak seperti itu maka manusia akan terpecah belah seluruhnya.


Kaidah 3: “Semua dalil nama dan sifat Allah diketahui secara substansi (makna inti) dan tidak diketahui secara deskripsi (makna keseluruhan)”

Allah berfirman:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” [Sad: 29]

Begitu juga Allah berfirman:

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan“. [Nahl: 44]

Dapat kita pahami dari ayat diatas, bahwasanya mentadabburi tidak akan bisa dilakukan kecuali dengan memahami maknanya atau substansi kata-katanya, dan manusia diperintahkan untuk mentadabburi Al-Qur’an, namun hal tersebut tidak mengharuskan untuk menghayalkan dan memikirkan deskripsi sifat-sifat Allah ataupun hal ghoib lain. Oleh karena itu Allah menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab dikarenakan maknanya bisa dipahami, jika maknanya tidak bisa dipahami maka tidak perlu Allah sebutkan bahasa Arab karena semua bahasa sama-sama tidak bisa dipahami maknanya.

Begitu juga dari sisi Akal, bahwa Mustahil Allah menurunkan petunjuk yang mana maknanya saja tidal bisa dipahami, jika begitu maka sama saja seperti ukiran dan huruf-huruf yang berderet tanpa ada makna yang terkandung di dalamnya, maka pada hakikatnya itu itu adalah penistaan terhadap hikmah Allah.

Allah berfirman:

الر ۚ كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ

Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu“.[Hud: 1]

Oleh karena itu, terbuktilah kesalahan orang-orang Mufawwidhoh (menetapkan bahwa tidak ada yang mengetahui Substansi maknanya kecuali Allah) dan mengira bahwa pemikiran salah tersebut adalah pemahaman salaf padahal salaf berlepas diri dari Pemikiran sesat tersebut dan sudah banyak perkataan salaf yang menetapkan makna-makna sifat Allah tanpa deskripsinya.

Ibnu Taimiyyah berkata dalam Minhajus Sunnah:
“Bahwasanya sudah jelas kita diperintahkan untuk mentadabburi Al-Qur’an, bagaimana bisa kita tidak bisa mengetahui makna sehingga harus berlepas dari dari memahaminya. Jika begitu maka para Nabi tidak ada yang mengetahui makna Ayat-ayat sifat Allah, dan mereka menyampaikan kata-kata tanpa mereka mengetahui maknanya. Jelas ini adalah penistaan terhadap para Nabi, sehingga mereka tidak bisa menjadi penyampai wahyu secara jelas, maka pada hakikatnya mereka mengatakan bahwa kebenaran adalah yang diketahui oleh akal masing-masing bukan yang ada pada wahyu karena Tekstual wahyu samar bermasalah, maka tidak ada yang mengetahui maknanya kecuali Allah sehingga tidak boleh ditafsirkan. Maka tidaklah ini kecuali penyumbatan terhadap dakwah dan hidayah Allah dari para Rasul dan membuka pintu penentangan wahyu dalam skala besar karena pada hakikatnya mereka mengatakan bahwa hidayah ada pada mereka bukan pada para Rasul karena mereka mengetahui yang mereka katakan namun oara Rasul tidak mengetahui apa yang mereka katakan apalagi untuk menjelaskan itu, maka perkataan ini adalah Seburuk-buruknya perkataan Ahlu Bid’ah dan Ilhad (menjurus kepada Liberalisme) “. (Jilid 1, Hal 113 – 116)

Penulis

Dosen: Islamic Studies @ UNIMED, Islamic Theology @ IMUN Islamic Law Methodology @ IMUN & Penulis Buku: Menghapus Titik Kelabu dan Mercusuar Biru